Australia, Sydney, Traveling

Nyantai di Sydney, Australia (part 7)

02 Mei 2017

Hari ini adalah hari terakhir kami akan berjalan-jalan di Sydney, besok kami akan kebali ke Indonesia tercinta! Kayaknya semua sudut Sydney sudah kami singgahi, jadi mungkin hari ini akan lebih santai lagi di Sydney CBD.. Pagi ini saya masih berharap bisa tiba-tiba bertemu dengan Bunga Citra Lestari yang lagi syuting film Surat Kecil Untuk Tuhan di Sydney (ngarep).

Kami terlebih dahulu check-out dari Sydney Boulevard Hotel dan seperti rencana awal, kami menuju hotel terakhir kami di Sydney, yaitu Ibis Budget Sydney East. Lokasinya dekat dengan Kings Cross Station, dekat dengan Coca Cola sign, tidak terlalu jauh dari Sydney Boulevard Hotel, jaraknya hanya sekitar 700 meter.

Sydney di hari terakhir sangat cerah!

Kalau lagi traveling gini, kami memang seneng beli cemilan, setidaknya kalau malam hari kelaperan ada yang dimakan gituu.. Kali ini kami membeli Indomie Cup, wahh di Indonesia saja belum ada kan, jadi saya sempatkan sarapan dengan Indomie Cup dulu tadi pagi sebelum check-out hotel. Jangan dicontoh yaaa, makan instan-instan apalagi mie sangat tidak baik.. Tapi, saya dan pak suami biasa juga membeli buah-buahan kok kalau traveling.. Karena buah-buahan di luar negeri kadang lebih cantik gitu dikemasnya..

Apa aja sih cemilan yang biasa kami beli kalau lagi traveling:

  1. Instant noodle
  2. Instant rice
  3. Biskuit
  4. Coklat
  5. Susu UHT berbagai rasa
  6. Air minum bersoda
  7. Buah-buahan

Apalagi hotel kami ini nggak dapat sarapan, jadi wajib banget pas malamnya membeli makanan dulu.. Tapi, yang harus sangat diperhatikan adalah di setiap hotel ada peraturan yang tentunya mengacu kepada peraturan pemerintah setempat. Pemerintah New South Wales ini mengeluarkan peraturan, yaitu jika mengaktifkan asap detektor atau alarm kebakaran di sebuah gedung tanpa ada kejadian kebakaran yang sebenarnya, maka akan dikenakan denda sebesar AUD 1776 . Gile ya! Maka Sydney Boulevard Hotel pun mengeluarkan peraturan:

  1. Hindari menggunakan kettle air panas di bawah smoked detector
  2. Hindari mandi air panas dengan pintu kamar mandi terbuka

Hal tersebut dianjurkan banget, karena ditakutkan asapnya atau uap panasnya membuat asap detektor di kamar menjadi aktif.. Kami berdua jadi takut sendiri! Jadi, saat membuat mie cup dan teh hangat untuk sarapan kami membawa kettle air panasnya ke kamar mandi (dan kamar mandinya pun kami tutup) demi menjaga keamanan dan kenyamanan haha..

Cemilan kami (nggak sehat)
Indomie Cup
Indomie cup so yummy haha
Peraturan Sydney Boulevard Hotel

Oiya, Vicky datang ke hotel kami (sepulang kerja pagi tadi) membawa nasi goreng yang dibuatkan temannya.. Rasanya enak banget, lumayan pedas dan berbumbu gituu.. Untuk Vicky yang stay lama di Australia ini, tentu makan nasi goreng yang dibuat oleh orang Indonesia langsung jadi pelepas kangen masakan rumahan khas Indonesia. Kami pun memesan dua nasi goreng tersebut untuk makan malam nanti.. So yummy!

Saat ini kami bertiga telah sampai di Hotel Ibis Budget Sydney East (di William Street), hotelnya sangat minimalis. Pintu masuknya sangat kecil, ada bel yang harus ditekan untuk masuk, tinggal ngomong aja kalau kita mau check-in, nanti pintunya akan dibukain (karena pintunya dikunci). Setelah pintu dibuka, kami harus naik tangga yang lumayan tinggi tapi sempit, harus satu per satu yang melalui tangga ini kalau membawa koper. Lobby nya ada di atas di lantai atas, karena di William Street ini ada tunnel, jadi bangunan utamanya ada di atas. Ibis ini ada dua pintu, yang kami lewatin tadi pintu samping gituu..

Tenang aja, lokasinya dijelasin dengan detail juga kok di website booking hotel. Tapi, yang pasti lokasinya dekat dengan Coca Cola Sign dan Kings Cross Station, tapi jangan salah karena ada banyak Hotel Ibis! Nah yang ini namanya Ibis Budget Sydney East Hotel ya! Kalau saya lihat di foto-foto yang diambil dari kejauhan, bangunan Hotel Ibis ini ada di pojokan jalan jadi bentuknya melengkung dan cukup besar!! Worth it banget deh nginep disini kalau di Sydney! Dekat kemana-kemana!

Proses check-in nya sangat cepat dan kami langsung menuju lantai dua. Kami sudah bisa menggunakan kamar, karena sudah cukup siang, sekitar jam 12 siang waktu Sydney. Setelah menaruh barang, saya dan pak suami pun pergi jalan-jalan without any special plan! Vicky menempati kamar untuk istirahat, kami akan janjian sore hari di Opera House. Saya sempat mengambil foto-foto kamarnya, mumpung masih rapih. Kamarnya Ibis banget! Minimalis, bagus dan simple, yang pasti komplit dan bersih walaupun ruang kamarnya agak sempit.

On the way to Ibis Budget Sydney East Hotel
Menyebrang kesana dan sampai ke hotel
Yang kuning itu Hotel Ibis nya (bukan pintu utama, jadi kecil)
Naik ke lobby untuk check-in
Pintu masuk di lihat dari atas
Check-in time! Di ujung adalah pintu utamanya
Ada drink machine (bener nggak namanya?)
Menuju kamar di lantai 2
Room number 219
Kasurnya nyaman!
Ibis Hotel Sydney
Cukup kecil tapi sangat nyaman!
Gantungan pengganti lemari
Kamar mandinya ada air hangat yang penting
Televisinya lumayan besar
Ibis Budget Sydney East Hotel (foto: Booking.com)
Ibis Budget Sydney East Hotel (foto: Booking.com)

Kami berdua berjalan keluar hotel melalui pintu utama. Karena hari ini sangat santai, kami berjalan kaki melewati Hyde Park menuju World Square yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan di Kota Sydney! Pingin lihat seperti apa sih kawasan keramaian di Sydney tersebut. Alhamdulillah setelah adegan masuk angin kemarin, sekarang saya jadi benar-benar fit badannya, jadi jalannya juga semangattt! Kali ini kami berdua memakai pakaian dengan warna yang senada, macam janjian aja! Padahal kami berdua nggak punya baju couple kecuali baju kondangan haha.

Eh, kalau flashback ke belakang sebenernya saya sama sekali nggak worried disini, mau kemana dan gimana menuju kesana, santai banget! Even googling aja nggak hahaha.. Selama disini yang selalu cari-cari destinasi adalah pak suami. Kayaknya saya emang udah kehilangan jiwa petualangnya deh! Bukan sombong, tapi sebelum ke Sydney ini saya berdekatan berurutan pergi ke Singapura, Hongkong, Thailand, malah ke Malaysia di bulan yang sama, yaitu awal April! Tapi percaya deh, dulu nggak punya tiket gratis kepingiiin banget traveling tiap bulan! Sekarang tiket gratis malah sampai nggak terpakai. Bersyukur banget sih! Karena dulu tinggal di Sumbawa Besar agak susah kemana-mana, karena pak suami susah cuti dan kerja dari Senin ke Senin lagi (nggak ada libur), flightnya juga banyak yang nggak connect. Sekarang di Surabaya ini bener-bener comfort zone, bisa cuti dengan mudah (tapi masih disayang-sayang juga!), pas lagi libur juga bisa lah ngacir sebentar, karena dari Surabaya flightnya banyak yang connect! Ditambah, kami masih berdua tanpa anak dan keluarga satu pun! Saya sebagai istri juga nggak ada kesibukan berarti, jadi yaa jalan mulu!

Sebenarnya bagus juga, macam anak kecil kalau dilarang-larang dia akan sembunyi-bunyi melakukan yang diinginkan. Itulah hidup, kami menjalani saja yang Allah tentukan, sampai kami ada di titik “yuk next step!” Bisa tebak dong! Yes program punya anak haha.

Dari hati saya yang paling dalam, saya memang bosan dengan traveling, means tidak terlalu excited untuk menyusun itinerary dan tidak menggebu-gebu lagi ketika pak suami bilang “let’s go holiday!!” Sekali lagi, bukan sombong ya hehe.. Maaf yaa buat yang membaca, seakan-akan saya tidak bersyukur. Tapi percayalah, dari traveling saya mengenal blog, saya senang sekali ketika akhirnya bisa aktif dalam komunitas blogger di Surabaya! Banyak manfaatnya, malah ada ungkapan “ngeblog sebagai terapi jiwa”. Nah, ini saya ngerasain banget!! Makanya yuk teman-teman menulis!

Back to our journey!

Sama seperti sebelumnya, yang tau tentang World Square ini adalah pak suami. Kami sampai di World Square, kami cuma butuh waktu sekitar 30 menit berjalan kaki dari hotel menuju ke sini, jaraknya cuma 1.5km. Bangunan disini modern, layaknya bangunan baru yang megah. Saya menghela nafas, akhirnya menemukan yang benar-benar mall! Haha.. Di dalam terdapat cafe-cafe yang semakin ramai, karena sudah jam makan siang. Rata-rata makanan yang dijual ada makanan Jepang, Amerika Latin, Italia, sisanya dessert semacam gelatto dan ada juga sandwich. Kami pun masuk ke dalam dan menemukan toko oleh-oleh yang lumayan komplit, tapi kami berpikiran untuk membeli China Town saja karena lebih murah. Kami juga mampir ke Miniso!! Duh toko unyuk-unyuk dari Jepang di Sydney ini juga ramai oleh para pengunjung! Setelah puas keliling-keliling mall (nggak ada yang kami beli), kami keluar lagi menuju taman terbuka di tengah-tengah mall yang juga disediakan tempat duduk santai, macam di pantai beneran!

Kami menikmati suasana keramaian ini dengan santai bersandar di kursi kain yang nyaman banget! Ditambah suhu udara di siang ini (sekitar jam 1 siang) cukup adeeeem, 20°C dengan angin sepoi-sepoi.. MashaAllah, kalau boleh tidur udah pules ini!! Yang lain juga duduk santai, ada yang menggunakan setelan jas kantoran lengkap dengan pantopel dan tas kerjanya sambil menelpon. Ada yang habis pulang fitness, karena pakai pakaian olah raga lengkap dengan mambawa botol minum dan tas fitness, sepertinya sedang menunggu teman. Ada yang beramai-ramai duduk ngobrol, yang ini kayaknya anak muda yang pulang sekolah (patut diingat, sekolah disini tanpa seragam hehe). Syukurnya ini bukan area merokok walaupun ini ruang terbuka. Enjoy the city! I feel like in the garden instead in the CBD area!

Taman Hyde Park
Hyde Park
Pembangunan gedung di tengah keramaian
Masih ada bangunan klasik di tengah bangunan modern
Sydney World Square!
World Square
Kami masuk ke World Square
Pusat oleh-oleh di World Square
Miniso World Square Sydney
World Square
Fitness First at World Square Sydney
Mari santai!!
Enjoy the CBD!!

Setelah melepas lelah, kami berniat makan di resto melayu (tadi pagi Vicky memberitahu), lokasinya ada di dekat China Town. Kebetulan perut mulai keroncongan. Resto yang kami tuju namanya Mamak, makanan yang disajikan adalah makanan melayu, exactly dari tulisan di menunya seperti Malaysia, tapi jelas cocok dengan lidah Indonesia. Restonya tidak terlalu besar tapi lumayan ramai, saat kami datang, ada dua kelompok orang (lebih dari 10 orang) yang sedang makan disini. Saya memesan menu Ayam Berempah dan minum Es Teh Tarik, sedangkan pak suami memesan Kari Kambing dan Limau Ais (es), kami memesan menu tambahan Beef Satay seporsi. Harga makanan disini lumayan mahal, waktu membayar kami habis 48AUD atau kalau di Rupiahkan sekitar 500ribu deh haha. Hmm untuk rasa, overall standar aja, nothing special. Karena kami tidak well plan dan hanya mencari yang tenar saja, jadinya tidak pilah-pilih lagi. Setelah keluar resto, kami cuma bisa elus-elus perut sambil tetep mikirin duit, hiks!

Ayam goreng berempah dan Kari Kambing at Mamak Resto
Beef Satay at Mamak Resto
Mamak’s menus
Mamak’s menus
Kwitansinya, mayan bgt 500 ribu hiks!
Mamak Resto, Sydney
Mamak Resto, Sydney
Mamak Resto, Sydney

Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan menuju Sydney Opera House, sekarang sudah sekitar jam setengah empat sore, udara semakin dingin, tapi kali ini kami membawa jaket buat jaga-jaga kalau malam semakin dingin. Setelah ini, kami berniat nongkrong di Sydney Opera House sampai malam, karena besok kami akan kembali ke Indonesia! Sebelumnya, kami mampir ke sebuah toko oleh-oleh yang sebetulnya sudah kami intip-intip dari kemarin, tapi namanya juga traveler hemat, nggak suka kalau nggak memantau harga di toko lain. Kami memutuskan kembali kesini karena, ternyata eh ternyata harga disini termasuk yang murah dan senengnya adalah kami nggak perlu tawar menawar. Sayangnya kami nggak sempat mampir ke paddys market, pasti disana lebih lengkap, walaupun sebetulnya nggak mesti lebih murah, karena kalau market gitu harus ada tawar menawar dan biasanya juga kalau mau harga lebih murah ya harus beli banyak, yaa ga sih haha. Pls share dong yang pernah ke Paddys Market Sydney! Kami tidak membeli oleh-oleh terlalu banyak, setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Sydney Opera House.

Sydney Opera House semakin sore semakin ramai dan lumayan dingin. Menikmati waktu sore gini disini bener-bener nyaman, sejenak melupakan yang namanya kejenuhan dan macetnya Kota Surabaya, walaupun sebenarnya jauh di lubuk hati kami yang paliiiing dalam, kami juga bersedih karena kami akan kembali ke perantauan. Hidup jauh dari keluarga sangat sedih, sepi dan bosan. Kami bertahan dengan cara kami sendiri, menghibur diri, bekerja, menjalankan hobi, meningkatkan ibadah, berteman dengan komunitas-komunitas. Walaupun demikian, kami yakin inilah yang mendewasakan hubungan pernikahan kami. Semua akan menjadi cerita indah yang kelak akan kami kenang di hari tua kami. Perjuangan kami sejak awal pernikahan, melalui suka-duka, sehat-sakit, sedih-bahagia, marah-damai, hanya berdua saja, belum lagi perjuangan mendapatkan keturunan melalui ikhtiar dokter yang juga penuh lelah dan tidak mudah dijalani.

Oleh-oleh Aussie
Oleh-oleh Aussie
Oleh-oleh Aussie
Oleh-oleh Aussie
Oleh-oleh Aussie
Oleh-oleh Aussie
Oleh-oleh Aussie

Hari semakin sore, Vicky mengahampiri kami di Opera House, kami bertiga duduk bercerita sambil tertawa dan membicarakan masa depan (gaya banget). Membicarakan pernikahan, keluarga, karir, dan semuanya. Nggak kerasa semakin malam, sudah menunjukkan jam 8 malam. Sebelum pulang ke hotel, ada seorang teman Vicky yang juga tinggal dan bekerja di Aussie ikut bergabung bersama kami. Kami pun menyempatkan berfoto bersama, sebelum benar-benar balik ke hotel, kami mampir makan malam di Food Court di Chinatown lagi. Setelah makan, kami berpisah dengan teman Vicky. Setelah itu, kami berjalan kaki ke hotel, yang ternyata lumayan jauh juga, tapi karena kami sambil asyik ngobrol jadi tidak kerasa kami pun tiba di Hyde Park. Kami sempat duduk-duduk santai sebentar, waktu sudah menunjukkan jam setengah 12 malam, saatnya kami berpisah dengan Vicky! Aahh sedih, besok pagi kami berdua akan langsung ke Bandara, kalau diberi kesempatan kami bisa bertemu lagi dengan Vicky di bandara.

Friendship is never ending!
Matahari benar-benar meninggalkan kami…
Suasana malam hari di Sydney
Last wefie!
Time to sleep…

Good night Sydney, ini adalah malam terakhir kami disini, besok kami akan kembali ke Tanah Air…

2 thoughts on “Nyantai di Sydney, Australia (part 7)”

    1. Semoga segeraaa Mbak ^^
      Biasanya kalau mau mulai belajar ke Luar Negeri ke negara tetangga dulu.
      Kenapa negara tetangga, krn tujuannya kita belajar mengontrol dan saving keuangan krn biaya traveling ke negara tetangga ga terlalu mahal 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.