Australia, Jalan-jalan, Sydney, Sydney Fish Market, Sydney Opera House

Nyantai di Sydney, Australia (part 6)

Australian Lingo! Speak like a local!!

Kalau ke Australia jangan heran dan bingung ya dengan Bahasa Inggris yang mereka gunakan. Pada dasarnya, bahasa formal orang Australia mengarah ke British English sebagai negara persemakmuran mereka. Tak hanya aksen British yang mereka gunakan, Australia juga memiliki bahasa gaul atau slang. Jika berkunjung ke Australia, mungkin kita akan mendengar orang-orang di sana menggunakan bahasa slang yang lazim didengar seperti g’day mate.

Australian Slang (sumber: internet)

Gaya hidup orang Australia yang relax dan cenderung outdoor mempengaruhi perubahan Bahasanya. Biasanya kalau kita bertanya kabar, kita cenderung bilang How Are You? Tapi di Australia mereka lebih familiar dengan G’day, mate! Seru yah! Jadi, g’day adalah kata sapaan universal yang digunakan tidak kenal waktu (pagi, siang atau malam) yang artinya good day. Tapi kata ini tidak pernah dipakai untuk ucapan perpisahan.

Bahasa Inggris yang dipakai oleh orang-orang Australia sangat unik dan berbeda logatnya, pertama kali saya bercakap dengan orang Australia lumayan bingung, karena kata-kata yang diucapkan terlalu cepat buat telinga saya, selain itu mereka kadang me-lafalkannya agak berbeda dari Bahasa Inggris yang saya pelajari. Contohnya, untuk kata “today” normalnya akan kita baca “to dey”, tapi kalau orang Australia akan membacanya dengan “to day”, yang ditangkap dengan kita adalah “to die”, artinya berbeda kan! Haha. Mereka bahkan menyebut diri mereka sendiri Aussie –singkatan untuk Australia! Aussie suka bermain dengan kata-kata dan menyingkat-nyingkat kata.

Ini nih beberapa contoh Australian Lingo yang biasa dipakai sehari-hari yang saya ambil dari beberapa sumber:

cya this arvo – See you this afternoon. (Sampai jumpa siang ini )

Cya this arvo in class!

daks – trousers (UK), pants (US)

I got some new daks yesterday at the shop. (Saya beli celana baru kemarin di toko)

dunnie – toilet, bathroom

D’ya know where the dunnie is, mate? (Apa kamu tahu dimana toiletnya?)

earbashing – constant chatter/talking ( Cerewet )

Her earbashing while I tried to study was driving me crazy!

fair dinkum – genuine, real ( ASLI )

Anna’s a fair dinkum Aussie.

heaps – a lot, lots ( Banyak )

Thanks heaps for your help. 

hooroo – goodbye ( Selamat Tinggal )

Hooroo mate, see ya tomorrow.

rellies  – relatives ( Keluarga )

The rellies are in town this weekend and we’re going to the beach.

spiffy – great-looking ( Cantik )

Those blue thongs are pretty spiffy, I think I’ll buy them.

thong – flip flops ( Sandal Jepit )

I need a new pair of thongs, these are about to break.

Dan masih banyak lagi tentunya! (sumber: English Cafe). So, kalau ke Australia siapkan betul telinga kalian ya hehe

Go to Australia one day!! (source: internet)

 

Lanjut ke perjalanan kami di Sydney..

01 Mei 2017

Kami bangun dan sarapan dengan kebab yang semalam belum kami sentuh karena udah tepar. Sebenernya semalam saya sempat terbangun dan makan beberapa suap snack box nya pak suami yang udah dibuka, bumbu yang dipilih adalah rasa humus, rasanya kurang cocok di lidah kami, jadi sedikit tidak laku, salah pilih rasa dan si pak suami sedikit menyesal (haha). Kebab yang saya beli justru enak bangeett, rasa barbeque jadi agak manis gitu, saya makan dengan lahap saking enaknya! Tapi si kebab ini bener-bener big size banget!! Saya yang doyan makan, setengahnya aja nggak habis karena kekenyangan, bisa banget buat berdua, akhirnya kami makan ramai-ramai, kebetulan Vicky juga sudah pulang dari tempat kerja.

Kebab World for my brekkie!
Fave chocolate
Pemandangan pagi hari dari kamar hotel
Hello Sydney!

Segera setelah makan kebab, kami pun bersiap dan pergi “menjelajah” Sydney lagi. Pagi ini Vicky memilih di hotel saja, karena sudah cukup kemarin saja nggak tidur seharian sejak pulang kerja pagi, hehe. Kami mampir dulu ke toko, semacam Indomar*t gitu yang ada di sebelah hotel, membeli minum buat diperjalanan. Hari ini kami memang sedikit santai, saat kami keluar dari hotel saja sudah cukup siang, sekitar jam 11 siang waktu Sydney. Kami akan naik kereta di Kings Cross menuju QVB (Queen Victoria Building). Dari hotel bisa berjalan kaki menuju Kings Cross Station, jarak dari hotel hanya sekitar 700 meter.

Kami melewati bangunan yang sangat mencolok, karena di badan bangunan tersebut terdapat iklan Coca Cola yang sangat besar, sehingga dari kejauhan saja sudah terlihat. By the way, kami juga sudah membaca di aplikasi booking hotel, kalau hotel terakhir kami nanti berlokasi dekat dengan Cola Sign ini. Jadi, kami besok akan pindah ke dekat Kings Cross ini.

Tadi malam kami sudah sedikit banyak googling tentang QVB ini, pada dasarnya kami memang mencari “mall”, seperti yang sudah-sudah, kami memang selalu pergi ke shopping mall di setiap negara yang kami tuju, walau hanya sekedar makan di food court atau mencari barang-barang bagus yang nggak ada di Indonesia. Katanya, QVB ini adalah salah satu shopping mall yang terkenal di Sydney CBD.

Dari Kings Cross Station, kami naik kereta tujuan Town Hall Station, hanya dua pemberhentian saja kami pun sampai. Di Town Hall Station ada akses langsung menuju QVB melalui lower gorund nya. I really excited! Kayak apa sih QVB ini, kok namanya terdengar mewah banget yaaa, pake bawa-bawa nama Queen Victoria segala!

 

Mampir ke swalayan sebelah hotel
Perjalanan menuju Kings Cross Station
Di ujung jalan ada Cola signs
Menemukan mobil DHL yang worldwide
Di samping Kings Cross ada Hotel Holiday Inn
We are in Kings Cross

Kami pun tercengang dengan yang kami lihat, menurut kami ini tidak seperti mall, melainkan seperti istana klasik gituu, di lantai paling atas ada jam besar yang menggantung sangat mewah!

Hmm.. Sepanjang bangunan ini memang berjejer toko-toko yang menjual barang-barang yang sangat berkelas dan mewah! Bisa kebayang kan! Pasti nggak ada yang bisa kami beli di sini! Atap bangunan QVB ini sangat rendah dengan lantai bertegel warna-warna klasik ditambah karpet tebal berwarna hitam berpadu bunga-bunga emas di lantai paling atas, sehingga memberi kesan lebih mewah. Toko yang mengisi QVB ini adalah brand-brand dunia kelas wahid semua, kami jadi merasakan perpaduan antara jaman kuno dan modern. Seperti sedang menembus waktu, kalau bahasa kerennya time travel gituuu..

Wajar banget kalau bangunan ini klasik, karena QVB dibuka sejak tahun 1898, hingga saat ini desain bangunannya masih benar-benar dijaga keasliannya, yaa mungkin ada beberapa yang sudah ditambah untuk memperbaiki fasilitas mall ini.. Saking nggak ngertinya, kami cuma menelusuri lantai per lantai, cuma ada tiga lantai ke atas (kalau nggak salah), yang semua desain bangunannya benar-benar tidak seperti mall. Setelah itu kami pun segera turun ke lantai dasar dan saya sedikit mengabadikan moment di QVB dengan berfoto di depan sebuah photo booth untuk diupload ke instagram, yang kalau fotonya bagus dan terpilih akan memenangkan 1000 dolar! Haha.. Actually I never ever imagine to win it!

Tentang Queen Victoria Building (sumber: Jejak Kaki)

Dikenal dengan singkatan QVB, mall yang menempati gedung kuno dari tahun 1838 ini dulunya merupakan sebuah Concert Hall dan Shopping Centre sebelum beralih fungsi menjadi perpustakaan dan selanjutnya menjadi kantor bagi Sydney County Council. Terancam akan dimusnahkan pada tahun 1959, akhirnya tahun 1982 direstorasi oleh sebuah perusahaan Malaysia (Ipoh Ltd) dengan imbalan sewa selama 99 tahun yang kemudian mengembalikan fungsinya menjadi Shopping Centre. Restorasinya pun tidak sembarangan tapi melibatkan juga para pakar sejarah dan konsultan bangunan bersejarah agar gaya Victorian Romanesque-nya tetap terjaga. Kini QVB mall menjadi rumah bagi upmarket butik dan merek-merek ternama dunia.

Ada beberapa pernak-pernik interiornya yang menarik hati dan bukan hanya menyimpan memori tapi juga sejarah dari gedung ini. Benda-benda tersebut antara lain :

  • Royal Clock, terletak di lantai teratas hall Selatan. Jamnya berbentuk kotak empat sisi dengan miniatur kastil 4 menara diatasnya. Jam ini diaktifkan dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam dan berdentang tiap satu jam sekali. Dinamai Royal Clock karena tiap kali jam ini berdentang, kedua jendela di samping kastil akan menampilkan diorama sejarah kerajaan Inggris. Total terdapat enam adegan sejarah mulai dari pemenggalan kepala King Charles I sampai penanda tanganan Magna Charta oleh King John. Tiap adegan diawali oleh kemunculan 4 peniup terompet dari menara kastilnya.
  • The Great Australian Clock, jam seberat 4 ton dengan tinggi 10 meter ini bagian atasnya dihiasi dengan 33 adegan sejarah Australia menurut versi bangsa Aborigin dan Eropa.
  • A Sealed Letter for People Of Sydney, terletak di lantai 4 berdekatan dengan kubah QVB terdapat surat yang ditulis oleh Queen Elizabeth II pada tahun 1986. Surat ini ditujukan untuk rakyat Sydney yang harus dibuka dan dibacakan oleh walikota Sydney tahun 2085. Apa isi suratnya? hanya Queen Elizabeth-lah yang tahu :).
  • Patung Queen Victoria, terletak di ujung selatan bangunan QVB, patung ini merupakan sumbangan dari Pemerintah Republik Irlandia. Untuk menghindari penghancuran oleh para pejuang IRA maka disumbangkanlah patung ini ke QVB.
  • Wishing Well, sumur harapan ini sebenarnya hanyalah sumur biasa yang dihiasi dengan patung anjing perunggu kesayangan Ratu Victoria. Di sumur ini terdapat himbauan untuk melemparkan uang sumbangan ke dalam sumur sambil menyebutkan harapan penyumbang. Uang dari Wishing Well ini akan disumbangkan bagi anak-anak Tuna Rungu dan Tuna Netra.

Wahhh ternyata bangunan ini bukan hanya sekedar cantik, tapi menyimpan banyak sejarah ya.. Saya jadi pengen berlama-lama disana kalau ke Sydney lagi..

Lantai bertegel di QVB
Atap bangunan QVB tidak tinggi ya!!
QVB dari lantai atas
Terdapat jam besar sebagai salah satu icon nya
Jamnya sangat klasik, CANTIK!!
CANTIK ya!
Di lantai paling atas ada karpetnya (tebal)
Dinding kaca yang terdapat tulisan tahun pembuatan
Mungkin karena jaman dulu ngga ada eskalator yaa..
Sedikit berpose di QVB booth!
Menang gak yaaa haha
Bangunan luar QVB, bisa-bisa nggak bakal engeh kalau ini adalah mall..

Kami melanjutkan perjalanan menuju Darling Harbour!! Dari QVB kami berjalan kaki ke Darling Harbour sekitar 1 kilometer aja.. Pokoknya seneng deh kalau di luar negeri gini, bisa jalan kaki dari satu lokasi ke lokasi lainnya.. Jalannya lumayan jauh, tapi ajaibnya saya dan pak suami nggak ngerasa capek, karena jalur pejalan kakinya bener-bener bagus.. Ditambah nggak ada polusi udara.. Ternyata fungsi jalur pejalan kaki yang bagus yang selalu diusahakan oleh Pemerintah Indonesia sangat bermanfaat bangettt kalau benar-benar terealisasi. Jalur pejalan kaki yang mulus dan terus bersambung ke banyak tujuan.. Tidak ada para pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya.. Semoga saja Pemerintah Indonesia segera mewujudkan jalur pejalan kaki yang sangat nyaman di banyak kota besar di Indonesia.. Aamiin!!

Darling Harbour adalah salah satu kumpulan lokasi wisata terkenal yang berada di Sydney CBD. Berhubung kami kelewat santai, kami cuma muter-muter tamannya aja, melewati beberapa fasilitas seperti cafe, taman olah raga, chinese garden, dan terakhir ICC Sydney.. Sebenarnya banyak atraksi yang bisa kita nikmati di Darling Harbour ini, seperti Wildlife Sydney Zoo, Madame Tussaude dan Sealife Sydney, yang semuanya berbayar.. Tapi jujur kami nggak mencarinya, kami kurang hobi menikmati hiburan-hiburan indoor museum atau semacam kebun binatang, kami hobinya makan dan belanja serta leyeh-leyeh di ruang terbuka hehe.. Biasanya sih tempat hiburan seperti itu cocok untuk wisatawan yang membawa anak-anak, karena berfungsi sebagai edukasi saat liburan, berhubung kami belum punya anak jadi kami cukup tahu saja luarnya Darling Harbour ini.

Darling Harbour
Darling Harbour
Papan catur raksasa di Darling Harbour
Memasuki Darling Harbour
Darling Harbour
Taman untuk berolahraga di Darling Harbour
Taman untuk berolahraga di Darling Harbour
Chinese garden di Darling Harbour
Chinese garden di Darling Harbour
Tempat Pak Jokowi jumpa dengan WNI di Sydney awal 2017 (ada Andre dan Sule juga)

Setelah puas, kami lanjut ke Sydney Fish Market!! Rasanya perut super laper, karena jam makan siang juga sudah lewat.. Kami naik Sydney Light Trail (tujuan Dullwich Hill) di Convention Centre.. Hanya melewati lima pemberhentian, kami pun tiba di Fish Market. Cuacanya berangin, tapi matahari cukup terik, saya bisa merasakan kulit muka kepanasan karena terpapar sinar matahari saat berjalan ke Sydney Fish Market ini.. Kami harus naik ke jalanan utama melewati anak tangga yang cukup banyak saking tingginya (stasiun ada di bawah jalan). Makin keringetan deh, tapi angin lumayan dingin, bisa dibayangin perpaduan panas dan dingin. Saya sih merasakan badan jadi nggak enak, ditambah kami harus turun lagi ke stasiun karena tau-tau salah memilih jalan keluar dan di seberang harus naik tangga lagi menuju jalan utama. Rasanya kepingin segera duduk sambil minum es teh manis! Sebenernya sudah sejak di stasiun Convention Center saya kepanasan dan merasakan pusing, tapi berhubung jarak perjalanan nggak terlalu jauh, saya pun tidak menghiraukannya.

Australia ini memang punya iklim yang unik! Saya ambil contohnya di Sydney, tidak bersalju tapi memiliki musim dingin yang suhunya sampai di angka single degree.. Kalau musim panas malah bisa sampai 30 degrees, mirip-mirip di Indonesia kan.. Saat ini Sydney masih musim gugur, jadi tidak terlalu dingin dan matahari masih cukup terik di siang hari. Be careful untuk orang Indonesia yang emang nggak biasa dengan cuaca dingin, karena di sini semakin sore, akan semakin dingin udaranya.. Jadi siap-siap bawa jaket ya! Saya pun sekarang bawa jaket di dalam tas, karena plan kami hari ini mau nongkrong malam-malam di Opera House!

Sydney Fish Market (SFM) ini merupakan pasar ikan yang katanya terbesar kedua di dunia, pastinya sangat terkenal di Sydney, kalau ke Sydney wajib ke sini ya, karena lokasinya di tengah kota dan mudah dijangkau dengan transportasi umum. SFM ini setiap hari Senin-Kamis tutup jam 4 sore, jadi kami masih punya 1 jam untuk makan seafood yang seger-seger khas Lautan Pasifik.. Kalau hari Jumat-Minggu, rata-rata tutup jam 5 sore.. Rata-rata memang toko-toko di Australia ini tidak buka sampai malam. Untuk jadwal operasional bisa cek situsnya disini..

Bau amis ikan yang masih segar langsung tercium saat memasuki SFM, yang bangunannya mirip warehouse yang disulap menjadi jejeran toko-toko yang memajang ikan, kepiting dan makanan laut lainnya yang segar-segar.. Tapi jangan membayangkan tempat ini penuh dengan ikan-ikan, lalu lantainya jadi banjir dengan air dan darah ikan ya! Disini superrrrrr bersih, gerainya modern, lantainya juga nggak kotor macam di pasar tradisional di Indonesia, yang jelas nggak ada laler loh! Jadi, nggak bakalan eneg-mual gitu kalau kesini hehe.. Malah meja-meja makannya juga disediakan di dalam pasar ikan ini.. Kita bisa memilih, mau makan di dalam bangunan ini, ditengah-tengah hidangan-hidangan laut yang segar, atau kalau mau bisa memilih tempat duduk di luar bangunan yang menghadap ke laut! Jadi, pasar ikan ini bisa dibayangkan semacam foodcourt di dalam mall (saking bersih dan modernnya) tapi khusus ikan dan hidangan laut lainnya, pengunjung bisa memilih langsung yang akan dipesan, malah bisa melihat dari dekat secara terbuka..

Hmm.. Ukuran hidangan laut tersebut besar-besar, rasanya kepingin dimasak semua. Jadi, kita tinggal masuk ke salah satu gerainya, memilih di kasir sesuai dengan paket yang ditawarkan (mau dimasak bumbu apa, tidak perlu memilih ikan-ikannya lagi) atau memilih ikan-ikannya lalu bawa ke kasir dan memilih mau dimasak apa.. Kami sempat muter-muter ke beberapa gerainya, yang semuanya menggiurkan.. Karena kami baru pertama kali makan di sini, akhirnya kami memilih menu paket saja.. Selain lebih mudah, pasti harga menu paket tersebut lebih murah (sudah tertera harganya). Hmm.. Tepatnya kami mundur teratur karena harga per kilogram seafood-nya yang mencapai ratusan dolar bikin garuk-garuk kepala haha.

Tidak butuh waktu lama, kepala saya semakin pusing dan rasanya mau pingsan dan keselnya nggak pingsan-pingsan! Saya langsung bilang pak suami kalau saya sudah tidak kuat lagi untuk berdiri, saya butuh tiduran malah! Akhirnya saya diantar pak suami ke tempat duduk yang ada di luar menghadap laut. Di tengah-tengah orang yang asyik menikmati seafood mereka bersama keluarga, saya malah duduk meringkukkan kepala di meja, segera saya keluarkan jaket dan saya pakai saja padahal cuaca cukup terik. Makin lama, makin menjadi, saya memutuskan untuk tiduran di kursinya. Padahal di belakang saya ada beberapa bule yang makan dengan seru, tapi saya sudah nggak peduli lagi malunya kalau diliatin.. Baru kali ini saya memilih untuk pingsan (kalau bisa), biar nggak ngerasain sakitnya hiks!

Pak suami datang, membawa menu paket kami.. Ia memaksa saya untuk makan dulu.. Saya turuti saja, sepertinya memang saya butuh makan.. Saya duduk, tapi kepala saya berat dan tidak lama kemudian saya memuntahkan (semua kebab tadi pagi) ke plastik yang saya minta dari pak suami secara dadakan karena bener-bener udah nggak tahan. Setelah muntah saya merasa lebih baik. Tapi saya tetap tidak bisa makan.. Ahahaha maaf ya kalau menjijikaann.. Sepertinya memang ke-alay-an saya makin jadi, dikala saya bilang ke pak suami mau teh panas manis!!! Haha.. Pak suami nggak bisa apa-apa. Yang ia bawa dari tadi adalah coke, jadi mau gamau saya minum haha!

Sepuluh menit setelah muntah saya bisa bangun dan berdiri dengan masih lumayan keleyengan. Saya memutuskan untuk ke toilet. Ini harusnya adegan sensor ya! Tapi nggak seru kalau nggak diceritain kan.. Di dalam toilet bule yang biasanya saya ogah berlama-lama, ini saya justru akhirnya merasa jauh lebih baik setelah mengeluarkan seisi perut haha. Setelah jauh lebih enak, saya pun kembali ceria, macam happy tummy happy kids! Tapi sekarang badan saya memang jadi lemass, super lemas! Saya benar-benar butuh teh panas manis untuk menambah tenaga!

Walaupun sudah sepi, kami kembali lagi ke tempat duduk di luar pasar ikan ini, menyantap seafood saya yang belum termakan. Sambil melihat ke laut, kapal boat yang bersandar menambah indah suasana sore yang semakin sunyi di sini, tapi burung-burung camar masih asyik berkeliaran, seperti biasa mereka sangat ramah dengan manusia, apalagi tadi waktu masih ramai dengan orang-orang yang makan disini, mungkin burung camar tersebut sangat gembira yaa, karena banyak santapan lezaattt!! Tapi, sebenarnya di sini dilarang memberi makan burung-burung camar loh.. Ternyata benar, SFM ini memang sudah mau tutup, meja-mejanya dibersihkan. Tadi juga waktu dari toilet, kami lihat gerai-gerainya sudah hampir tutup.. Alhamdulillah akhirnya bisa makan.. Ternyata saya merasakan nggak enak makan dari hari pertama karena masuk angin!! Baru kali ini saya benar-benar drop saat traveling. Untung saya selalu bawa minyak kayu putih serta tisu basah kalau lagi traveling gini haha!

Menuju Fish Market
Stasiun Fish Market
Stasiun Fish Market
Silau men!!
Ini saya tahan matanya, padahal aslinya sangat silau!
Di depan SFM ini tersedia lapangan parkir mobil yang luas
Seperti warehouse ya, ada loading dock-nya segala!
Sydney Fish Market (burem karena udah pusing tapi masih mikirin blog haha)
Sea cucumber alias Teripang!! Rp 600 ribuan per ekor. Mahal ya!
Harganya bisa dikalikan Rp 10ribu jadi lebih dari 1,5 jetiii per kilo
Ikan-ikannya segar!
Saya dan masuk angin (meringkuk di meja)
Padahal menggiurkan wanginyaaa
Sudah mau pulang abangya!
Lantainya pun sudah dibersihkan
Hmmm Yummyyy!
Akhirnya kemakan jugaa!
Mencari sisa makanan yang nggak ada..
Dilarang memberi makan burung ya!
Sore yang cantik
Kalau masih siang, disini sangat ramai
Sydney Fish Market
Sydney Fish Market

Badan saya sepertinya sudah benar-benar kembali normal, karena tiba-tiba saya lapar lagi.. Kami pun pergi ke China Town, makan di Pondok Selera! Beruntung banget di Sydney ini ada makanan Indonesia yang murah meriah, biasanya kalau di luar negeri makanan Indonesia harganya lebih mahal dibandingkan harga junk food! Setelah makan, kami pun naik kereta menuju Opera House! Saya nggak pernah bosan loh kesini setiap hari, padahal di sini cuma duduk-duduk saja, saya justru semakin suka, karena semakin malam, semakin ramai di sini! Kali ini kami mengelilingi Opera House, ke belakang gedung ini dan memutar kembali. Dilihat dari berbagai sudut, Opera House ini benar-benar cantik! Saya benar-benar menikmati suasana malam hari disini, udaranya semakin dingin dari hari sebelumnya, welcome winter!!

Dengan mengenakan sweater di badan, kami berjalan pulang. Kali ini kami benar-benar berjalan kaki! Sebenernya jarak ke hotel kami hanya 2 kilometer.. Tapi rasanya jauhhh banget dan lumayan capek, karena jalanannya banyak yang menanjak. Hebatnya, masih banyak loh orang-orang Australia yang masih berjogging di suhu udara yang dingin gini. Sebelum ke hotel, kami mampir ke Metro Swalayan lagi yang berada di sebelah hotel kami, membeli beberapa cemilan.. Dan ternyata mbak kasir yang melayani adalah orang Indonesia, ia mengaku sedang kuliah disini sambil bekerja part time.. Wah memang banyak yaa orang Indonesia yang mencari kehidupan di Australia ini, semoga mereka semua sukses di negeri orang dan suatu saat bisa kembali ke Indonesia..

Sumpah, nasi tim di luar negeri gini enak bangett.. My supply energy!!
Dan pak suami pesennya soto ayam yummy!
Eskalatornya dari kayu, unik ya!
Sydney Opera House!
My fave view in Sydney

Kami sangat senang hari ini, pastinya kami akan tidur nyenyak malam ini. Terimakasih Sydney!!

Have a sweet dream!

4 thoughts on “Nyantai di Sydney, Australia (part 6)”

  1. Seru ya acara jalan2 bareng pak suami di Sydney, meskipun ada drama masuk angin hihihi. Mungkin karena sarapannya kebab semalem, yg pastinyabudah dingin jadi perut gk kompromi deh *sotoy deh komenku* haha ^^v

    Btw salam kenal, tengkyu udah follow di twitter ^^

    1. Iyaa Mbak.. Kayaknya emg perut kampung gini kelakuannya, setiap terbang jauh pasti masuk angin, dan ini yang paling parah dari semuanya haha
      Salam kenall Mbakk.. Sama-sama mbak, semoga kita bisa ketemu suatu hari di acara blogger ya Mba 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.