Australia, Sydney, Traveling

Nyantai di Sydney, Australia (part 8- the last part)

03 Mei 2017 : TIME TO GO HOME…

Tidak ada kendala apa-apa dipagi ini, kami check-out dari hotel jam 7 pagi, kami berjalan kaki menuju Kings Cross Station, naik kereta menuju ke Bandara Sydney. Di kereta, kami duduk di kabin atas, karena sekali lagi untuk terakhir kali menikmati kenyamanan transportasi di Negara Kangguru ini, sebelum kembali ke Indonesia (entah kapan lagi kami akan kembali kesini). Saat mendekati bandara, kamipun turun ke kabin bawah dan bergabung dengan orang-orang lainnya yang juga akan turun. Saat berdiri, di dekat kami ada seorang bapak bule yang membawa koper dan lengkap dengan seragamnya (kecuali bar di tangannya), sepertinya ia adalah seorang pilot. Saya masih sedikit bertanya-tanya, kalau di Indonesia, para kabin kru maskapai penerbangan selalu ada yang antar jemput, tapi di beberapa negara, seperti Malaysia, Singapura, Korea Selatan dan juga Australia ini, sepertinya mereka berangkat dan pulang sendiri deh.. Ada yang bisa bantu jelasin?? Hehe.. Sorry random haha.

Kings Cross with Love
Cola Sign Sydney

Saat melewati Central Station
Sydney Airport Train
Seroang Pilot di kereta menuju Sydney Airport

Finally kami sampai di bandara, lagi-lagi tidak ada halangan saat check-in, Alhamdulillah. Kami tidak sempat bertemu Vicky, sedih rasanya.. Padahal kalau dipikir-pikir, kami juga jarang bertemu sejak lulus SMA dulu, tapi rasanya nggak tega meninggalkan teman, sahabat sekaligus keluarga di negeri sejauh ini sendirian. Disatu sisi kami belajar sesuatu tentang hidup, kami merantau masih di Indonesia loh.. Sedangkan Vicky dan Ahmad merantau sangat jauh dari negeri tercinta, tidak ada keluarga dan segalanya asing. Semoga mereka dan kami semua dalam lindungan Allah, diberikan kesehatan dan rejeki yang berkah.. AAMIIN..

Sydney Airport See you again!
Proses check-in di Sydney Airport

Saat melewati immigration check point, saya lagi-lagi kena random check. Saat yang lain hanya perlu meletakan barang di x-ray dan melewati pintu x-ray, saya harus masuk ke dalam sebuah mesin yang seperti tabung yang akan mendeteksi seluruh badan saya secara memutar, yang belakangan saya tahu kalau ini namanya adalah body scanner. Ini kali ke tiga saya melewati body scanner, sebelumnya di Belanda dan di Paris. Setelah melalui body scanner ini saya selalu merasa kikuk dan bertanya dalam hati, whats wrong?? Kenapa harus saya? Keluar dari pemeriksaan, pak suami sudah menunggu di luar area imigrasi, ia langsung merangkul saya, karena tau kalau saya berlama-lama disana berarti melewati pemeriksaan khusus yang bikin saya nggak nyaman.

Sebenernya tidak ada hal khusus yang terjadi, tapi memang perpindahan antar negara sangatlah sensitif, kita juga harus waspada. Karena saya kebanyakan nonton acara “Airport Security Colombia” dan “Locked up Abroad” di Natgeo kali yaa, jadi tingkat kewaspadaan saya cukup tinggi.. Beberapa hal yang saya pelajari dari acara tersebut adalah:

  1. Jangan mau dititipkan barang apapun oleh siapapun apalagi sama yang tidak dikenal, kalau sama teman dan keluarga, harus banget kita cek barang tersebut, dibuka dan dipastikan isinya tidak membahayakan diri kita.
  2. Saat mulai menggendong tas atau menggeret koper, sejak saat itulah kita harus menjaga barang kita itu agar tidak ada yang menyelipkan apapun ke tas kita tanpa sepengetahuan kita.
  3. Pakailah tas dan koper milik sendiri, pastikan tas dan koper tersebut sebelumnya tidak dipinjam oleh siapapun, kalau habis dipinjam, harus diperiksa dan dibersihkan dengan teliti dna benar.
  4. Jangan meninggalkan barang tanpa pengawasan kita.
  5. Pastikan kantong baju dan celana aman dari gangguan orang lain.

Keparnoan saya emang kadang tidak masuk akal, tapi lebih baik menjaga kan! Karena setiap negara akan memberikan hukuman keras bagi siapa saja yang ketahuan membawa narkoba dan sejenisnya! Catet itu! Dari film-film dokumenter Natgeo yang saya tonton, saya melihat bahwa tidak penting barang itu milik siapa, yang terpenting barang itu ada di siapa?? Dua film dokumenter itu bener-bener horor, malah ada salah satu cerita di Airport Security Colombia, seorang ibu menangis kencang karena dia sebenarnya tidak tahu, kalau tas koper yang dititipkan oleh kakaknya berisi paket narkoba, akhirnya ia ditangkap padahal barangnya bukan miliknya. Naudzublillah.. Semoga kita semua terhindar yaa dari kejadian-kejadian demikian..

Back to alat yang namanya body scanner, kali ke tiga saya melalui body scanner ini rasanya tetap sama, tidak nyaman dan merasa agak terintimidasi gituu.. Berdasarkan artikel (tahun 2015) yang saya baca, ternyata alat ini disebut Fully Body Scanner.. Berikut cuplikan artikelnya.

Mungkin pembaca masih ingat kejadian bulan Desember tahun 2009 bertepatan saat perayaan Natal, ketika seorang warga negara Ethiopia yang diduga teroris mencoba meledakkan sebuah pesawat penerbangan domestik AS, Northwest Airlines dengan nomor penerbangan 253. Dengan bahan peledak plastik yang dijahit ke celana dalamnya ia lolos dari deteksi keamanan bandara namun berhasil ditangkap sebelum ia meledakkan pesawat tersebut.

Insiden ini mengagetkan  TSA (Transportation Security Administration) AS dan sejak saat itu sistim pengamanan seluruh bandara di Amerika diperketat dengan berbagai langkah dan prosedur pengamanan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah penggunaan alat yang dikenal dengan full body scanner.

Full body scanner adalah sebuah alat pemindai yang bisa menembus lapis pakaian seseorang, memetakan bagian tubuh dengan akurat, serta bisa mendeteksi senjata non-logam & bahan peledak pada permukaan tubuh yang terlindungi oleh pakaian. Cara kerja alat ini sangat cepat dan hanya membutuhkan waktu antara 15 dan 30 detik untuk mendeteksi seseorang. Orang yang hendak diperiksa terlebih dahulu memasuki bilik kecil dan disuruh angkat tangan, kemudian gelombang radio akan mendeteksi tubuh dari segala penjuru. Alat ini  segera mengirim gambar 3-D berupa bentuk tubuh tanpa pakaian di layar monitor. Dengan demikian operator bisa mengetahui benda tersembunyi yang melekat pada tubuh “telanjang” tersebut.

Alat pemindai ini sudah dilakukan di beberapa bandara dunia yang bertujuan menghindari seorang penumpang membawa bahan peledak non logam, narkotika, atau apa saja yang bisa membahayakan penerbangan.

Amerika Serikat adalah negara yang pertama sekali menggunakan alat ini dan terdapat  sekitar 40 alat pemindai yang tersebar di 19 bandara yang berbeda. Diperkirakan pada tahun 2011 ini akan digunakan lebih dari 1200 scanner yang akan ditempatkan di stasiun kereta, subway dan gedung pengadilan. Belanda dan Nigeria  juga sudah menggunakan mesin ini di berbagai bandara yang dianggap berpotensi munculnya aksi terorisme. Demikian dengan Italia, mereka juga telah merencanakan memasang alat ini di semua stasiun kereta api dan bandaranya.

Namun demikian, walau alat ini merupakan salah satu cara ampuh mencegah aksi yang merugikan dunia penerbangan dan diklaim tidak menyimpan gambar-gambar hasil scan, penggunaan full body scanner  justru memicu kontroversi.

Menurut jajak pendapat online oleh The Consumerist situs pada November 2010 terhadap 11.817 orang, 59,41% mengatakan mereka tidak akan terbang akibat penggunaan alat ini. Juga jajak pendapat oleh MSNBC terhadap 8.500 pembaca secara online, menunjukkan 84,1% percaya bahwa prosedur baru tidak akan meningkatkan keamanan perjalanan.

Alasan utama munculnya kontroversi ini adalah karena dianggap mengganggu privasi seseorang yang tidak rela seluruh tubuhnya digeledah dan disaksikan orang lain melalui layar komputer. Mereka khawatir foto-foto yang direkam akan disalahgunakan terutama kaum selebritis, perempuan, dan anak-anak. Aksi penolakan pun semakin besar ketika tanggal 16 November 2010, 100 dari 35.000 gambar yang disimpan oleh scanner bocor di internet. Alasan lain untuk menolak alat ini adalah kekhawatiran efek radiasi sinar X  (X-Ray) yang ditimbulkannya ketika seseorang  dideteksi.

Salah seorang tokoh yang tidak setuju dengan alat pemindai ini adalah pemimpin religius Katolik, Paus Benedict XVI.

Di Indonesia sendiri  alat pemindai ini telah ada sejak tahun 2008 yang bermerek ProVision buatan pabrikan L3 Security & Detection System, Amerika Serikat. Tetapi belum digunakan hingga saat ini karena pemakaiannya belum diatur akibat banyaknya kontroversi di berbagai pihak, antara lain Majelis Ulama Indonesia yang mengatakan pemakaian alat ini melanggar hak azasi manusia dan norma-norma agama.

Sumber: KOMPASIANA

Yaampun, ternyata segitunya yaa dampak dari alat ini terhadap dunia penerbangan. Walaupun demikian, saya yakin ini untuk tujuan kebaikan. Wallahi.. Setiap kali melewati fully body scanner ini, saya selalu memasang wajah setenang mungkin, padahal saya merasa tidak nyaman hehe.

Contoh alat Full Body Scanner (sumber: internet)

Tidak banyak yang kami lakukan di Sydney Kingsford Smith Airport ini, kami hanya masuk ke beberapa duty free shop, melihat souvenir original made from Australia yang harganya jauh lebih mahal dibanding yang kami lihat kemarin di China Town. Kami punya kebiasaan, mencari jajanan di suatu bandara (di luar negeri) sebelum berangkat, biasanya makanan cepat saji. Kali ini kami memilih makanan khas Turki gitu, yang jelas-jelas terpampang tulisan Halal! Ditambah minuman cokelat dan strawberry yang nikmat jadi penutup hari kami di Sydney.

Sydney Kingsford Smith Airport
Sydney Kingsford Smith Airport
Sydney Kingsford Smith Airport
Sydney Kingsford Smith Airport (salah satu ruang tunggu)
The king of sky! B747-400
Produk asli Australia di Sydney Kingsford Smith Airport
Produk asli Australia di Sydney Kingsford Smith Airport
Sydney Kingsford Smith Airport
Sydney Kingsford Smith Airport
Sahara Resto, makanan Turki halal di Sydney Kingsford Smith Airport
Sahara Resto, makanan Turki halal di Sydney Kingsford Smith Airport
Sahara Resto, makanan Turki halal di Sydney Kingsford Smith Airport
Sahara Resto, makanan Turki halal di Sydney Kingsford Smith Airport
Sahara Resto, makanan Turki halal di Sydney Kingsford Smith Airport
Sahara Resto, makanan Turki halal di Sydney Kingsford Smith Airport
Sahara Resto, makanan Turki halal di Sydney Kingsford Smith Airport
Choco yummy!
Let’s eat before 7 hours flight!

Setelah kenyang, kami menuju gate 25 yang sudah ramai oleh para penumpang yang juga akan menumpang pesawat Garuda Indonesia GA713 tujuan Jakarta. Tidak lama, kami pun boarding dan siap untuk duduk di kursi 47H dan 47K selama kurang lebih 7 jam non stop menuju Jakarta. By the way, kami hanya transit sebentar di Jakarta dan akan langsung lanjut ke Surabaya, I need kasurr hhehe.

Gate 25 Sydney Kingsford Smith Airport
Bring us back to Indonesia!!
Gate 25 Sydney Kingsford Smith Airport
GA 713 SYD-CGK

Berikut adalah makanan yang dihidangkan selama penerbangan, overall saya suka dengan makanan dan cemilannya! Kenyang dan nikmat. Membuat penerbangan kami jadi terasa menyenangkan.

Biskuitnya enak bangett…
Mashed potatonya creamy!
Browniesnya juga lembut dan manisnya pas!
Ice cream Australian made!
Rasa mangga dengan manis yang pas

See you Sydney! Ini hanya kunjungan perkenalan saja, suatu saat kami akan kembali, lebih tepatnya untuk memanfaatkan Visa Multiple Entry 3 tahun yang kami punya. InshaAllah..

7 thoughts on “Nyantai di Sydney, Australia (part 8- the last part)”

    1. Waduuuh Mbakk..
      Aku tadinya gak mau mikir krn aku berjilbab eh kena masuk fully body scanner, taunya mbak juga..
      Hmm.. Patut dipertanyakan ya Mbaaa huhu..

  1. Alhamdulillah saya belum pernah masuk alat tersebut walaupun kemana mana saya kopyah…hal itu karena penerbangan saya rutenya selalu Surabaya Jeddah…hehe…:D

  2. Duh.. Aku ikut ngerasain gimana seluruh badan di pindai. Karena berhijab rasanya waswas juga ya meskipun ini untuk kebaikan. Ya.. Mudah-mudahan nanti ada cara yang lebih sesuai dengan norma agama untuk mendeteksi hingga detil ya.. Yg bikin kita merasa nyaman2 aja

    1. Iyes Mba Ruli, agak gimana rasanya, tp yg lebih mengesalkan kenapa harus perempuan berjilbab??
      Memang kita salah apa yaa Mbak hhuhu
      aamiin semoga ada yg lebih baikk…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *