Business and Finance, Info dan Inspirasi, Surabaya

Memajukan UMKM Jawa Timur di Era Digital

Para narasumber yang hadir berbicara tentang UMKM

Saat ini dunia seakan-akan berada di ujung jari, almost everything are possible by your hand! Mau pergi kemana, mau menginap dimana, mau makan apa, mau liburan kemana, mau beli sesuatu?? You just need to touch your gadget yaa kan.. Merupakan keuntungan besar bagi para konsumen, karena dapat menyingkat waktu dalam bertransaksi untuk mendapatkan yang diinginkan. Tapi, bagi para pelaku bisnisnya (UMKM) apakah hal tersebut peluang baik atau sebuah ancaman??

Kali ini dalam sebuah acara Focus Group Discussion yang dihadiri oleh para jurnalis, pelaku UMKM, serta para blogger di Hotel Amaris Bintoro Surabaya membahas tema:

Kiat UKM dan Perbankan Hadapi Perubahan Pola Konsumsi Masyarakat”

Dan narasumber yang berbicara adalah:

  1. Dani Surya Sinaga (Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Regional IV JATIM)
  2. Drs Achmad Basuki MSi (Kabid Pemasaran Dinkop dan UKM Provinsi Jawa Timur)
  3. Kuncarsono Prasetyo (Owner Kaos Sawoong)
  4. Atta Alva Wanggai (Regional Credit and Bussiness Development Bank Mandiri Wilayah VIII JATIM)

Seperti yang telah disebutkan di atas, perubahan jaman memaksa kita sebagai pelaku UMKM untuk terus berinovasi agar mampu bersaing secara global. Berikut penjabaran dari masing-masing pembicara:

Pembicara 1

Dani Surya Sinaga (Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Regional IV JATIM)

Ada sebuah tagline bagi para pelaku UKM yang harus dilaksanakan, yaitu UKM 4.0 (para pelaku UKM harus produktif, kreatif, berjiwa entrepreneur, serta go digital).

Khusus menghadapi pola digital sebenarnya pelaku UKM sudah mulai terbiasa ini dengan makin banyaknnya pelaku usaha yang sudah memasarkan produknya via online yang dimulai dari, product, price, place, dan promotion.

Product disini tentunya produk yang dihasilkan oleh UKM. Price, artinya harga mampu bersaing, karena dengan digitalisasi mampu memotong mata rantai terutama dalam hal distribusi. Place, artinya mampu berjualan dimana saja. Jika penjualan manual hanya mampu meng-cover di wilayahnya saja, maka di era digital ini barang bisa dijual dimanapun, tak hanya di wilayah Indonesia tapi juga di belahan dunia lainnya. Dan terakhir promotion, di era digital ini semua produk mampu dijual dan dipromosikan secara mudah dan cepat via online.

Lalu, OJK juga menjelaskan tentang masalah pembiayaan bagi para pelaku UMKM. Di era keuangan digital ini, OJK telah mengeluarkan ketentuan Fintech (Financial Technology) yang merupakan lini bisnis berbasis perangkat. Fintech dimulai pada Desember 2016 lalu, hingga kini terus berkembang. Setidaknya sudah ada 25 perusahaan yang bergerak dibidang pembiayaan.

Pak Dani mengambil salah satu contoh fintech yang berada dibawah naungan OJK, yaitu Amartha.com. Perusahaan fintech ini menawarkan pinjaman mulai dari Rp 3 jutaan, yang ditujukan bagi pedagang kecil, seperti pedagang kelontong. Caranya juga mudah, permohonan dalam 3 hari sudah dijawab. Rate bunganya rata-rata 1,25 persen. Pembayarannya dilakukan secara mingguan. Pengajuan kredit ini semua dilakukan secara online.

Dengan bermunculannya lembaga pembiayaan seperti ini, maka semakin memudahkan UMKM untuk bisa mendapatkan modal, sehingga UMKM akan terus tumbuh.

Para peserta diskusi UMKM

Pembicara 2

Drs Achmad Basuki MSi (Kabid Pemasaran Dinkop dan UKM Provinsi Jawa Timur)

Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional. Jika nasional hanya 5,07 persen, maka di Jatim sudah mencapai 5,17 persen. Ini kalau dirupiahkan sudah mencapai Rp 1,880 Triliun. Dan pertumbuhan ekonomi Jatim itu 54,8 persennya di-support Koperasi dan UMKM.

Berdasarkan sensus ekonomi ada 6,8 juta UMKM pada 2012, walau pada sensus ekonomi 2016 turun menjadi 4,68 juta UKM, data itu terbagi dalam kategori mikro, kecil, dan menengah. Lantas apa yang dilakukan oleh Pemprov Jatim agar keberadaan UMKM itu terus tumbuh sehingga roda perekonomian Jatim semakin maju pesat. Maka salah satunya dengan membantu dalam hal produksi, pembiayaan yang kompetitif, serta pemasaran.

a. Produksi:

  • Legalitas (SIUP, NPWP, TDP, dll)
  • Standarisasi produk
  • Sertifikat untuk UMKM yang memproduksi makanan
  • Pemasaran produk

b. Pembiayaan yang kompetitif:

Begitupun dengan soal pembiayaan, Dinas Koperasi juga berusaha memberikan solusi. Bagaimanapun faktanya saat ini, bunga perbankan Indonesia masih lebih tinggi dibanding dengan negara ASEAN lainnya. Di Singapura, khusus koperasi dan UMKM bunganya hanya 4 persen per tahun, di Indonesia Bank Konvensional bunganya sekitar 12-18 persen. Namun khusus masyarakat Jatim bisa sedikit berlega hati karena di Bank Jatim (sebagai bank UMKM), para pelaku UMKM bisa mendapatkan bunga rendah dengan bunga hanya 7 persen.

c. Pemasaran:

Yang pasti pemprov terus berupaya mempromosikan produk-produk UMKM, tak hanya di dalam propinsi tapi juga diluar provinsi. Bahkan khusus pameran, pemprov menggratiskan sewa stand. Itu dilakukan untuk memajukan UMKM di Jatim. Ingat orang Jatim ini karakternya bonek, artinya bonek positif, artinya produk yang dihasilkan nanti tentunya tidak meninggalkan kualitas, kontinuitas dan price. Saatnya mengubah pola pikir, ketika sudah laku tidak mengubah standarisasi produk dan harga, agar konsumen tidak kecewa dan pelaku UMKM tetap untung.

Era digital ini mulai menjarah segala sektor terutama ekonomi multi sektor, tidak hanya pasar online yang merajalela tapi juga perbankan akan mulai beralih ke sistem digital. Bukan hanya di Indonesia, sebagai contoh bank-bank di Swiss dan Belanda mengurangi ribuan pegawai bank karena pengaruh era digital. “Saya harap di Jatim mari bersama-sama melakukan terobosan. Bagi masyarakat Jatim  jika sudah memiliki legalitas bisa mendaftar via website dengan mengisi 18 indikator. Tapi kadang-kadang jiwa males itulah yang menghambat kemajuan UMKM. Sudah difasilitasi, enggan melakukan pengisian. Ingat, UMKM itu jika ditopang kemauan dan niat akan menunjukkan sebuah jalan menuju keberhasilan.” Tutup Pak Achmad Basuki.

 

Pembicara 3 :

Kuncarsono Prasetyo (Owner Kaos Sawoong)

Sebagai pengusaha jangan beralasan usaha berhenti karena keterbatasan modal. “Saya adalah orang yang telah memanfaatkan Fintech bahkan kalau kita mau kita bisa mendapatkan pinjaman yang bisa mencapai Rp 2 miliar. Jadi begitu mudahnya mendapatkan dana untuk kemajuan usaha, jadi jangan jadikan alasan lagi tidak ada modal”.

Saat ini banyak perusahaan-perusahaan fintech seperti yang telah disebutkan oleh Pak Dani dari OJK di awal. Selain itu, aplikasi jual-beli online seperti Bukalapak dan Tokopedia juga menyediakan fasilitas dana talangan.

Mas Kuncarsono berbagi ilmu tentang sukses bisnis UMKM nya (Kaos Kawoong)

Menurut Mas Kuncarsono, selain modal, memasarkan produk adalah faktor utama dalam berbisnis. Maka dibawah ini dijelaskan beberapa hal yang harus dilakukan para pelaku UMKM ketika ingin produknya lebih laku terjual di pasaran.

  1. Kita telah memasuki dunia artifisial, dimana visual mengalahkan segala sesuatu. Para pelaku UMKM merubah pola pemasaran dari yang secara konvensional menjadi memanfaatkan visualisasi untuk pemasaran. Sebagai contoh: sekarang bukan lagi jamannya menjual produk furniture dengan dipanggul keliling kampung (ini memang sudah ada sejak jaman Belanda menjajah Indonesia), saatnya kini beralih untuk memasarkan melalui market place (secara online) dengan menampilkan visualisasi berupa foto-foto yang menarik perhatian para konsumen.
  2. Dalam pengemasan atau packaging, sangat diperlukan inovasi sehingga para konsumen tertarik untuk membeli dalam jumlah banyak. Walaupun packaging menarik, tapi bukan berarti menipu (tidak sesuai). Contoh, kacang dibungkus plastik harganya Rp 4000 per bungkus, tapi ketika akhirnya berganti dikemas secara menarik, kacang tersebut harganya bisa melonjak menjadi Rp 25 ribu per bungkus, malah ketika dijual di bandara atau di tempat pariwisata bisa mencapai harga Rp 50 ribu per bungkus. Jadi, berinovasilah dalam kemasan produk!
  3. Mengidentifikasi kebutuhan dan target pasar sangat penting sebelum memulai bisnis. Jangan menghabiskan energi dengan berjualan yang tidak mengenali target pasar. Pola perdagangan purba dengan sistem manual, yakni menyasar pada siapapun yang ditemui (menawarkan produk kepada siapapun yang belum tentu membutuhkannya), harus mulai dihindari. Ketika memasuki dunia digital, maka penjualan produk menjadi lebih efisien karena bisa mencari pangsa pasar yang tepat sasaran.
  4. Lantas bagimana kalau  gaptek? Jadi kalau gaptek ya repot di era digital ini. Solusinya adalah belajar atau berkolaborasi dengan mereka yang mengerti dunia digital. Jika kita yakin maka apapun yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Hal di atas dilakukan sebagai bentuk usaha branding produk yang merupakan sebuah identitas yang membedakan kita dari produk lainnya. Diperlukan berbagai inovasi penjualan dan produksi agar produk yang kita jual tetap laku dipasaran. Mengkombinasikan antara penjualan secara online dan penjualan secara offline sangat efektif dilakukan agar produk kita dikenal dan laku dipasaran.

 

Pembicara IV :

Atta Alva Wanggai (Regional Credit and Bussiness Development Bank Mandiri Wilayah VIII JATIM)

Bank Mandiri sebagai BUMN terus bergerak bersama dengan para pelaku UMKM. Implementasi yang sudah dilakukan Bank Mandiri untuk turut mengangkat perekonomian Indonesia dengan melalui UMKM salah satunya dengan mendirikan Rumah Kreatif BUMN (RKB). Dimana didalamnya terdiri dari proses mencari UMKM, membina, sampai mengajarkan e-commerce.

RKB itu ada di setiap kota di Indonesia, dengan harapan bisa mengakomodasi kepentingan UMKM. Namun masing-masing kota, beda bank yang ditunjuk, misalnya di Sidoarjo menggunakan Bank BRI, kebetulan di Surabaya kerjasamanya dengan Bank Mandiri.

Karena program ini merupakan program baru diluncurkan tahun 2017 ini, maka Bank Mandiri berusaha menjemput sendiri pelaku UMKM. “Kita berusaha mencari UMKM untuk dijadikan binaan BUMN maupun pemerintah. Jadi kita melakukan pemjemputan secara aktif”.

 

Pak Atta dalam menyampaikan Rumah Kreatif BUMN

Menjadi member RKB sangat mudah, para pelaku UMKM cukup melakukan register. Fungsinya RKB ini akan membantu pengembangan usaha dan peningkatan kualitas produk dengan belajar dan berbagi bersama. Dan seperti halnya DINKOM & UMKM Jatim, program RKB ini tidak berbayar alias gratis.

Hingga saat ini sudah ada berbagai macam kegiatan pasca di launching pada Januari 2017 lalu, sudah ada sekitar 42 kegiatan. Misalnya, kegiatannya terkait packaging hingga mencari pangsa pasar, dari pembiayaan hingga produk jadi semua sudah terprogram. Bahkan RKB mewadahi promosi produk melalui digitalisasi alias e-commerce, lewat laman belanja.com. Inilah peran BUMN untuk memajukan UMKM yang selama ini jalan sendiri-sendiri kita fasilitasi, hingga akhirnya berharap barang yang dijual tidak secara lokal tapi teregister di belanja.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *