Australia, Sydney, Traveling

Nyantai di Sydney, Australia (part 5)

30 April 2017

G’day!! 18°c  in Sydney!

Hari ini kami bangun dengan badan cukup segar dan tidak lagi ada bentol-bentol di badan saya, I really have a tight sleep, thank you Sydney! Plan kami hari ini adalah bertemu salah satu teman kuliah kami yang sudah cukup lama stay di Sydney. Media sosial yang seringnya digunakan sebagai tempat pamer, ternyata bermanfaat juga ya! Teman kami yang bernama Ahmad tiba-tiba melihat postingan status Path pak suami kemarin pamer-pamer waktu baru sampai di Sydney gituuu… Ahmad langsung nge-direct message ke pak suami, singkat cerita akhirnya kami janjian deh buat ketemuan besokannya dan jalan bareng!

Setelah selesai bersiap dan packing barang, kami check out hotel tepat jam 8 pagi. Kami berdua berjalan kaki dari hotel menuju Hyde Park terlebih dahulu untuk ketemuan dengan Vicky. Seperti yang sudah saya jelasin, kami di The York Hotel ini cuma semalam aja.. Hotel ini nyaman ajaa dan worth it lah dengan harganya, karena lokasinya strategis! hanya saja karena terlalu besar jadi agak sepi gitu rasanya, saya sendiri bukan orang yang mudah untuk tidur nyenyak di kamar hotel (mau sebagus apapun kamarnya), mesti saya ngajiin dulu baru saya bisa tidur haha.. Ini serius loh, saya biasanya baca alquran kalau habis solat wajib di hotel, zikir-zikir juga saya banyakin. Karena pernah trauma diganggu mahluk halus, eh tapi nggak trauma juga sih namanya, wong saya berani koq kalau malam-malam dikamar hotel bangun hanya untuk ke toilet, minum ataupun kelaperan tengah malem sendirian.. Hanya untuk jaga diri ajaa.

Room 1109 The York Hotel Sydney (see you again!!)

Lobby hotelnya
Kontak Vicky dulu sebelum benar-benar keluar hotel
Byeee!!

Cuaca hari ini lebih panas dari kemarin, apa karena masih pagi ya! Kami berjalan menyusuri Jalan York menuju Hyde Park, seperti biasa saya berjalan di belakang pak suami  Saya sambil foto-foto makanya tertinggal, suamik jalannya sambil liat google maps dan geret-geret koper kami.. Saya menikmati perjalanan ini, melihat bangunan klasik yang ditandai dengan bangunan berwarna kecoklatan ditengah-tengah bangunan modern lainnya (yes, disini sudah banyak bangunan bergaya modern, tapi tetap tidak mencolok penampakannya). Jalanan yang superrr bersih, ditambah trotoar yang sangat nyaman untuk para pejalan kaki. Kita lihat ya apakah trotoar ini akan terus tersedia sampai tiba di Hyde Park ataukah akan ditemukan kerusakan atau malah jalur pejalan kaki ini hilang dan terputus begitu saja?? (Let’s see).

Perjalanan menuju Hyde Park sekitar 1.5 kilometer, jadi nggak terlalu jauh, apalagi sambil liat pemandangan kota yang adem gini. Tapi makin lama jalanannya semakin menanjak, membuat saya merasa ngos-ngosan, inilah alasan saya kenapa kalau pergi traveling harus pakai walking shoes, sebenernya running shoes juga oke, asal jangan flat shooes, saya pernah pakai flat shoes, itu pegelnya MashaAllah!! Sampai di hotel, kakinya langsung saya rendem air hangat, karena pegelnya sampai telapak kakinya sakit. Daripada flat shoes, lebih baik sendal jepit sekalian deh (tapi kan nggak bisa gaya!). Hmm kebayang nggak sih, kalau pakai flat shoes, lama-lama kakinya keringetan trus jadi bau! (Ini pengalaman pribadi karena kepingin gaya feminin gituuu pas traveling hahaha).

Kalau mau traveling boleh banget gaya, tapi jangan sekali-sekali pakai sepatu yang tidak nyaman! Means, sepatu adalah peralatan penting nomor satu ketika traveling, jadi kalau bisa belinya yang sekalian bagus tapi awet dan nyaman! Sampai saat ini, sepatu yang saya pakai adalah merk Skechers (bodo amat mau dibilang promosi kek haha), itu sepatu emang the one and only kalau saya lagi traveling, udah 2.5 tahun menemani saya traveling! Favorit banget! Pernah saya beli sepatu karena keren modelnya, saya beli di Amsterdam waktu itu, modelnya semi boots gitu, tapi cuma sekali saya pakai, sakitnya nggak tahan pas di pakai! Pernah juga waktu traveling ke Hongkong, saya beli sepatu bertali semacam sneakers dan itupun nggak nyaman! Singkat kata, harus yang ber-branded supaya dapet sepatu yang awet dan nyaman! Ada harga ada rupa! Ini cuma pengalaman saya loh ya! Jadi mana yang nyaman aja yang dipilihhh.. Cheers!

Rute kami dari The York Hotel ke Hyde Park

 

York Street
Ada Daiso juga (di pinggir jalan)
Bangunannya klasik di persimpangan jalan gini (me likeyyy!)
Bersih dan ademmm di liat nya ya!
Suami bagian geret koper, istri foto-foto
Sushi Tei!! (hayo siapa yang sukaaa bgt, saya nggak! hehe)
Another view!
Jalanannya menanjak! Capekk hiks!
Mulai ramai dengan pengendara
Hampir sampai di Hyde Park
Kawasan dekat Hyde Park ini lebih ramai
Hyde Park here we are!

Kami pun sampai di Hyde Park dan Alhamdulillah langsung ketemu dengan Vicky! Benar saja, sepanjang perjalanan kami tadi sangat nyaman dengan tersedianya trotoar yang sangat bagus, tidak ada motor yang lewat trotoar padahal trotoarnya sangat lebar. Kami tidak menemukan kesulitan ketika harus geret-geret koper. Kami langsung disuguhi pemandangan hijau saat memasuki area Hyde Park ini, menyusuri jalan taman yang disediakan, sampai akhirnya kami menemukan sebuah bangunan yang ternyata adalah sebuah gereja! Loncengnya terus berdentang menyambut minggu pagi yang cerah ini. Bangunannya mirip sekolah Hogwarts dengan pilar dan atap menjulang tinggi.. Sangat besar dan megah!! Jauh di depannya ada beberapa air mancur dengan patung-patung di tengahnya.

St Mary’s Cathedral Sydney ini merupakan Gereja Katolik Roma yang awal mulanya dibangun pada tanggal 21 Oktober 1821, namun demikian perjalanan gereja ini hingga berdiri megah tidaklah pendek, gereja ini pernah musnah terbakar pada 29 Juni 1865. Gereja Cathedral ini bergaya arsitektur Gothic Revival yang merupakan gaya arsitektur yang muncul di Inggris pada tahun 1740-an dan popularitasnya berkembang pesat pada awal abad ke-19. Pada saat itu, gaya arsitektur ini tidak hanya digunakan untuk gereja saja, tapi juga untuk bangunan sekolah, universitas, bahkan gedung parlemen dan juga rumah warga banyak menggunakan gaya arsitektur ini.

Wah pantas saja yaaa kalau gaya bangunan St Mary’s Cathedral Sydney ini terlihat klasik. Setuju kan! Bangunan seperti ini pasti banyak banget ditemukan di negara-negara Eropa, terutama di Inggris sebagai daerah asal dari gaya arsitektur ini. Yakin deh kalau tinggal di Inggris, mencari tempat foto yang instagramable nggak akan susah hehe.

In Hyde Park
St Mary’s Cathedral di bagian timur Hyde Park
Tsakepppp yaaa bangunannya, langitnya pun keren!
Lumayanlah yaa ngambil fotonya hehe
Ini keluarga om bule serius banget liatnya hehe
Superrrr cool!
A view of St Mary’s Cathedral from Hyde Park By JohnArmagh – (source: wikipedia)
View from The Sydney Tower By Diego Delso- (source: wikipedia)

Kami bertiga melanjutkan perjalanan menuju hotel baru kami, yaitu The Sydney Boulevard Hotel yang lokasinya hanya sekitar 600 meter dari Hyde Park, jadi kami berjalan kaki saja. Udara pagi ini lebih hangat tapi sangat ramah untuk pejalan kaki. Saya sendiri menikmati perjalanan ini sampai lupa kejadian kemarin waktu di dorong sama bule gila yang membuat saya agak trauma. Saya lebih sering jalan di belakang pak suami dan Vicky, memanfaatkan waktu untuk mengambil beberapa foto. Saya langsung membayangkan kalau suatu saat pak suami dipindahtugaskan ke sini, duh saya pasti senenggg banget bisa setiap hari jalan-jalan  menikmati taman-taman terbuka bersama anak-anak kami kelak, aamiin..

Kami hanya menitipkan barang kami, karena memang belum bisa check-in. Setelah menitipkan barang, kami berjalan kaki lagi menuju Hungry Jack’s yang ada di George Street Sydney (1.5 km ke arah kiri hotel), disana pula kami janjian dengan Ahmad. Hungry Jack’s ini merupakan bagian dari Burger King Coorporation, yes jadi kalau di Indonesia namanya adalah Burger King. Hungry Jack’s memiliki sekitar 200 outlet di seluruh Australia. Kenapa kok namanya dibedain?? Karena pada awal Burger King mau masuk ke Australia tahun 1971, ternyata sudah ada sebuah takeaway food shop bernama Burger King di Adelaide, Australia. Jadi, diputuskan untuk menggunakan nama Hungry Jack’s deh..

Secara umum, sama dengan restoran cepat saji lainnya, membeli dan mengambil pesanan di kasir, setelah itu membawa sendiri pesanan kami ke meja. Uniknya restoran ini adalah banyaknya burung-burung merpati yang berjalan di lantai sambil makanin sisa-sisa makanan yang berjatuhan, tapi tidak diusir oleh siapapun, seperti sudah terbiasa. Lucu sihhh ngeliatnyaa, burung gendut yang kelaperan mau ikut sarapan juga, mereka masuk ke restoran ini berjalan kaki, tidak terbang-terbangan (kayaknya ngerti kalau dia terbang bakalan ganggu orang gituu.. hehe).

Vicky sebenarnya punya kupon potongan harga di Hungry Jack’s ini, makanya kami makin excited makan disini. Disamping itu, makanan yang paling termakan oleh saya selain makanan halal kemarin adalah si Hungry Jack’s ini. Saya pun makan dengan lahap, kami bertigaa lahap banget! Nggak pernah kebayang sebelumnya sekalipun, kami bisa ada di sini makan senampan bertiga dan seru-seruan bareng, tadinya cuma temen satu SMA yang cuma mikirin belajar, ujian, remedial! Hahaha.. Terimakasih yaa Allah!

Si pak suami sibuk nelpon-nelpon Ahmad, ternyata udah mau sampai di tempat kami ini. Kami pun segera menghabiskan makanan kami. Saat kami menghabiskan makanan, ada seorang bapak-bapak yang pakaiannya agak lusuh menghampiri kami, bilang “give me change..” Sambil mengarahkan tangan kanannya ke mulut seperti orang sedang menyuap makanan. Kata Vicky, orang seperti itu biasa (semacam pengemis gitu kali yaa..), kami pun memberikan bapak itu sedikit uang logam AUD kami. Setelah itu kami segera keluar restoran dan menunggu Ahmad di seberang jalan.

Sepanjang jalan dari kemarin sebenarnya mata saya mencari-cari toko obat, sambil nunggu Ahmad sebenernya saya pingin mampir ke toko obat kecil yang ada di belakang kami, tapi tidak mungkin karena Ahmad sesaat kemudian sampai, mobilnya berhenti di hadapan kami. Kata Vicky beli obatnya di toko “Chemist Warehouse” aja sambil nunjuk ke seberang jalan (kebetulan ada di sebelah Hungry Jack’s), toko ini merupakan toko obat terbesar dan terlengkap di Australia, malah katanya paling murah harganya.. Saya pikir Chemist Warehouse mahal harganya..

The Sydney Boulevard Hotel
Mengantri pesanan Burger di kasir
Hungry Jack’s
Burung merpati yang ikut sarapan
Sarapan kami!
Yummy!!!
Burger time!
Hungry Jack’s George Street, Sydney
Hungry Jack’s George Street, Sydney

Masih sekitar jam 10 pagi, mobil Ahmad meluncur dengan semangat menuju Bondi Beach! Yeayyy kami hari ini akan mantaii! Pak suami duduk di depan menemani Ahmad yang nyetir mobil. Saya dan Vicky di belakang tetap memakai seatbelt, karena menjadi kewajiban untuk memakai seatbelt kalau di Australia dan negara-negara maju lainnya walaupun duduk di belakang.. Saya cukup kenal dengan Ahmad walaupun jarang ketemu, sejak jaman kuliah tepatnya (sekitar 10 tahun yang lalu). Jadi Ahmad ini teman satu kuliah dengan pak suami, katanya dulu pak suami (masih pacar) suka nebeng motornya Ahmad kalau mau jemput saya di kampus (di daerah Cipinang, Jakarta Timur). Lucunya nggak pakai helm, makanya sepanjang jalan tutupan kepala pakai koran haha. Saya ketemu Ahmad kalau lagi main ke kampus mereka saja. Kalau Vicky juga sering diceritain ke Ahmad dan sebaliknya, jadi sudah lumayan kenal, malah lagi-lagi nggak nyangka bisa ketemu dan kumpul dengan cara seperti ini.

Perjalanan yang kami lalui tidak terlalu lama yaitu sekitar setengah jam saja dan masih satu daratan dengan Sydney CBD (hanya berjarak 8-9 kilometer ke arah timur), hanya saja butuh kendaraan pribadi agar lebih cepat, sebenernya saya kurang tahu juga apakah ada transportasi umum menuju ke Bondi Beach ini selain taksi. Diperjalanan, Ahmad bercerita, kalau Australia ini sangat ketat dalam masalah mengemudi, tidak bisa asalan mendapatkan surat ijin mengemudi disini. Tapi, di Australia ini memiliki mobil bukanlah hal yang mewah, nanti akan saya ceritakan di tulisan terpisah ya!

Kami melewati area yang bangunannya berwarna-warni seperti pelangi, sudah bisa ditebak dong ini merupakan kawasan LGBT di Sydney. Biasanya kawasan ini ramai pada saat ada party saja kata Ahmad. Kami melaju terus dan sampai di daerah yang jalannya lebih sepi, bukan merupakan jalan utama, ini merupakan pemukiman warga. Makin lama, kami memasuki area pemukiman warga yang ramai oleh mobil-mobil yang parkir di pinggir jalan dan juga banyak cafe-cafe yang masih sepi karena masih cukup pagi dan akhirnyaaa mulai terlihat pantaiiii, disini malah ramai! Kami parkir mobil di depan sebuah rumah karena memang parkirnya agak susah, parkiran ini kami dapat setelah muter-muter gang perumahannya. Tidak terlalu jauh berjalan ke pantainya, kami hanya melewati beberapa gang perumahan. Memang diperbolehkan untuk parkir di depan rumah warga ini, ada peraturannya juga ya!

Ready to go!!
Bangunan pelangi!
Kami menuju Bondi Beach!
Bangunan klasik, cantik!
Memasuki area pemukiman penduduk
Pemukiman penduduk
Cafe-cafe
Cafe-cafe
Pemukiman penduduk
Pantaiiii.. Bondi Beach sudah mulai terlihat!
Pemukiman dekat dengan Bondi Beach
Parkir deh..
Peraturan parkirnya
Really excited to Bondi
Superrr excited!!

Here we are! Bondi Beach!! Saat ini masih sekitar jam 11 siang, temperature udara disini 21°c dengan angin pantai yang lumayan kenceeng jadi tambah dinginnn, padahal matahari cukup terik dan langit cerah banget!! Banyak sekali yang menikmati siang ini di pantai ini, menghabiskan waktu bersama anak-anaknya yang masih kecil-kecil atau bersama pasangannya! Kami berjalan dari ujung pantai ini melalui jalur pejalan kaki yang disediakan. Banyak yang berbikini dan bercalana pantai, tapi saya pakai sepatu kets dan blouse gitu, efek nggak niat ke pantai jadi nggak siapin baju juga..

Kami pun duduk-duduk di undakan tangga menghadap ke laut. Di ujung kiri ada bangunan-bangunan penduduk yang posisinya pas banget di pinggir laut, di sebelah kanan ada kolam renang yang berada di pinggir laut, sepertinya milik sebuah hotel. Setelah itu kami pindah ke taman, banyak yang bersantai-santai bahkan sampai tiduran. Sekitar jam 1 siang, Ahmad mengajak kami lagi pergi ke tempat lainnya yang nggak kalah cantik!

Bondi Beach!
Banyak yang mantai di siang hari, karena cuacanya cukup sejuk
Bondi Beach
Bondi Beach
Bondi Beach
Jalur pejalan kaki di Bondi Beach
Saya nggak tahu ini bangunan apa (?)
Bondi Beach
Peraturan pantai Bondi
So happy!
Limusin super panjang!
Sepertinya limusin ini merupakan sewaan untuk wisata
Taman Bondi Beach
Bersantai di taman (tukang foto: saya haha)
Laut yang terlihat dari taman
Tanning or tanned (haha)
Duhhh romantis yaa!
Bangunan di sekitar Bondi
Akhirnya sempet wefie!
Ada si koak jugaa! (read: burung camar)

Selanjutnya, Ahmad membawa kami ke Sydney bagian utara (Northern Beaches) yang ada di seberang Pelabuhan Sydney, perjalanan kesana pastinya melalui Sydney Harbour Bridge. Penghubung antara Sydney CBD dan North Sydney adalah Sydney Harbour Bridge ini, jembatan ini menjadi icon yang terkenal dari Kota Sydney bersamaan dengan Sydney Opera House! Saya merasa kecil saat melewati jembatan ini, saking sangat megah dan kokohnya jembatan ini!! Jembatan ini dibangun pada 28 Juli 1923, menjadi jembatan lengkung besi terpanjang nomor empat di dunia! So cool!!

Kami melewati jalur yang agak menurun, jalurnya memang seperti berbukit. Di kanan kiri jalan adalah perumahan warga atau perbukitan. Jalanannya bagus mengingatkan saya kalau lagi di puncak, tapi ini versi lebih modern! Kami akan ke daerah Dee Why, yang merupakan tempat tinggal Ahmad. Ia berniat mengajak kami makan siang di tempat favoritnya dekat tempat tinggalnya.

Kami pun sampai di sebuah tempat perbelanjaan, namanya DeeWhy Grand Shopping Centre. Jadi kami akan makan di sini! Ahmad segera menuju ke sebuah resto fish and chips, Costi’s Fish namanya!! Kami antri dan memilih menu makan kami. Makanan kami pun siap, kami segera makan dengan lahap. Nggak bisa diceritain gimana lezatnyaaa Fish & Chips ini, Fish & Co favorit saya yang ada di Indonesia kalah enaknya loh.. Mungkin karena disini rasanya lebih original kali ya. Selain itu, harga nya lebih murah, padahal ikan dan seafoodnya seger-seger banget! Gendut-gendut gitu dagingnya hahaa..

Melewati Sydney Harbour Bridge!
Lalu lintasnya cukup ramai
Pemukiman yang kami lewati
Jalannya berukit dan menurun
Kota yang cantik
Disini dekat dengan laut lohh
Menuju Dee Why
Kawasan pusat Kota Dee Why
Antri Costi’s Fish & Chips
Costi’s Fish and Chips
Menunya
Costi’s Fish and Chips
Costi’s Fish and Chips
Costi’s Fish and Chips
Costi’s Fish and Chips
Costi’s Fish and Chips
Costi’s Fish and Chips
Costi’s Fish and Chips
Costi’s Fish and Chips
Costi’s Fish and Chips
Let’s go!

Kami akhiri makanan enak kami, Ya Allah semogaaa besok masih bisa makan ini lagi! Kami melanjutkan perjalanan menuju ke lokasi yang ada di salah satu daerah di Northern Beaches ini, kata Ahmad disitu pemandangannya cantik banget, apalagi sudah sore seperti ini. Kami memasuki area pemukiman lagi, sepertinya disini lagi ada spring clean, yaitu membuang barang rumahan yang tidak terpakai lagi, yang diletakkan di depan rumah pada saat tertentu yang sudah ditentukan jadwalnya oleh pemerintah setempat. Biasanya ada di negara-negara maju ya, dimana masa pakai barang yang mereka miliki maksimal hanya lima tahun! Ada juga istilah winter clean, intinya sama saja. Awalnya kegiatan ini berkaitan dengan musim dingin atau musim semi, tapi sekarang bisa dilakukan kapan saja sesuai jadwal, harus sesuai jadwal karena kalau meletakkan barang bekas di depan rumah bisa dianggap sebagai pelanggaran hukum. Pada saat spring clean ini, orang-orang yang lewat bisa mengambil barang-barang yang kira-kira masih berguna secara cuma-cuma dan bebas.

Northern Beaches adalah sebutan yang digunakan untuk mendeskripsikan pinggiran kota di pantai utara Sydney, di negara bagian New South Wales, Australia, terletak dekat pantai Samudera Pasifik. Wilayah ini memanjang ke selatan ke pintu masuk Port Jackson (Sydney Harbour), barat ke Middle Harbour dan utara ke pintu masuk Broken Bay. Jadi ada empat distrik negara bagian di sini, antara lain Davidson, Manly, Pittwater, Wakehurst. Bisa cek Wikipedia ya untuk lengkapnya. Tadinya saya kira ini adalah hanya sebuah pantai. Oiya, Dee Why (tempat tinggalnya Ahmad) masuk dalam Distrik Pittwater di Northern Beaches.

Kami sampai! Ternyata kami diantar untuk melihat pemandangan Kota Sydney dari tebing yang tinggi sekali. Terlihat di kejauhan, Sydney CBD dibatasi oleh lautan yang biru yang tenang. Kami pun segera berbaring di taman yang hijau di tebing ini, sambil menghadap ke langit yang bersih. Matahari sudah mulai turun menuju ke peraduannya, udara makin sore semakin dingin, saat ini sudah jam 4 sore.. Kami tidak berlama-lama di sini, setelah puas tiduran santai, kami melanjutkan perjalanan menuju Distrik Manly, menuju ke Manly Beach!

Kami hanya melewati beberapa blok jalan menuju Manly Beach, diperjalanan yang dominan kami temui adalah pemukiman warga, sisanya semakin dekat ke pantai ada semacam kondominium atau apartment yang bangunannya paling tinggi hanya empat atau lima lantai saja, ada cafe-cafe juga yang sudah mulai ramai. Bisa kami temui orang-orang yang berjalan sambil membawa papan seluncur menuju pantai. Akhirnya kami sampai di lokasi parkir, yang seperti biasa parkirnya di depan rumah warga. Eh tapi, jalan yang kami lewati menuju wisata tebing tadi adalah jalan yang ini jugaa, jadi emang deket banget jaraknya ke Manly Beach, jadi tadi kami sudah melewati jalan ini.

Kami berjalan kaki tidak terlalu jauh menuju pantai. Disaat kami berjalan menuju pantai, kami mendapat kesempatan memperoleh barang spring clean! Haha.. Tebak apa hayo! Nggak mungkin televisi atau kulkas yaa haha.. Kami menemukan CD yang dibuang di depan rumah warga dan kami mengambil satu CD nya Michael Buble!! Karena dari semua kaset yang dibuang itu yang kami suka cuma lagunya Buble doang! Lumayan lah, CD nya asli pula!

Northern Beaches
Northern Beaches
Northern Beaches
Spring cleaning (barangnya udah laku mau diambil)
Spring cleaning (barangnya udah laku mau diambil)
Spring cleaning at Northern Beaches
Kondominium di Northern Beaches
Kondominium di Northern Beaches
Cafe-cafe yang mulai ramai
Tebing di Northern Beaches, menghadap ke Samudera Pacific dan Sydney CBD
Our parking area di Manly Beaches
Rumahnya sederhana yaa..
Going to Manly Beach!
Ada Michael Buble (eh kasetnya maksudnya haha)
Gereja sederhana di suburb yang sederhana pula

Sudah sangat dekat ke pantai, kami memasuki area tempat berkumpul para wisatawan ataupun warga lokal, banyak toko dan cafe yang menjual jajanan mereka. Ada live music, walaupun menggunakan alat musik yang tidak terlalu lengkap, tapi sangat menghibur para pengunjung yang duduk-duduk disini. Saya saja merasa girang melihat orang-orang yang berkumpul di sini menghabiskan waktu sore sambil menikmati angin pantai yang semakin dingin di sore hari ini, ditambah musik yang disajikan oleh grup band lokal benar-benar menambah semangat sore kami.

Saya dan Vicky menuju salah satu cafe es krim gelato yang tampaknya menggiurkan, kata Ahmad gelato nya disitu emang juara! Ahmad dan teman-temannya pastinya suka nongkrong di Manly Beach ini, karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka di Dee Why. Harga es gelatonya adalah 20AUD per cone (isi 2 scoop). Kami pun berjalan ke pantai sambil makanin gelato, the best gelato ever!! Walaupun agak mahal tapi bener-bener worth it! Saran saya, kalau mesen 1 scoop aja, karena isinya banyak banget! Kami berempat menghabiskan waktu sore kami duduk di pinggir pantai menghadap ke arah laut. Masih banyak juga orang-orang yang tiduran di pasir pantai, padahal matahari sudah hampir tenggelam dan semakin dingin.

Menuju Manly Beach
Kawasan nongkrong di Manly Beach
Manly Beach
They are so cute!
Sepanjang kawasan ini banyak penjual jajanan
Manly beach
Banyak yang nongkrong ya..
Burung camar pun ikut bernyanyi..
Enjoy the evening!!
Gelatos time!
Enjoy Manly Beach!!

Kebanyakan kami mengobrol tentang bagaimana bisa sampai “disini”, means sudah 10 tahun berlalu sejak kami memulai kuliah, dimana saat itu kami masih idealis dan masih sangat teks book. Dunia kerja sangat berbeda dan kadang kejam, nggak semua yang kita harapkan akan terwujud, apa yang kita tampakkan pun adalah yang harusnya kita tampakkan. Kadangkala orang lain melihat segala yang ditampakkan itu sebagai suatu kenikmatan dunia yang tiada tara, padahal untuk menuju kesana perjuangannya sangat tidak mudah. Intinya kita syukuri saja apa yang kita punya, selagi masih bisa berusaha maka teruslah berusaha.

Padahal matahari sudah tenggelam, angin pantai pun sudah semakin dingin berhembus, tapi masih ada aja mba/mas bule yang berjogging di pinggiran pantai (di jalur pejalan kaki). Seperti biasa, mereka joggingnya bener-bener kuat dan nggak males-malesan. Ada pula yang main Volley Pantai!! Saya aja udah kedinginaan. Hmm.. Setelah beberapa kali saya baca-baca artikel tentang Australia, saya kutip salah satu artikel dari website Australia Embassy, yang menyatakan bahwa warga Australia adalah penggemar olah raga, baik sebagai pemain maupun sebagai penonton.

Australia sering mencapai prestrasi yang luar biasa pada tingkat elit. Pada Pesta Olah Raga Olimpiade Atena 2004, Australia berada di peringkat ke empat dalam perolehan medali secara keseluruhan di bawah Amerika Serikat, Cina dan Rusia. Pada Piala Dunia Sepakbola 2006, Australia mencapai babak 16 besar. Australia juga merupakan bangsa berperingkat atas dalam olah raga kriket di dunia.

Namun tidak hanya pada tingkat top ini saja Australia menikmati olah raga. Survei nasional baru-baru ini memperlihatkan bahwa lebih dari 11 juga warga Australia yang berusia antara 15 tahun atau lebih ambil bagian sekurangnya sekali dalam satu minggu dalam kegiatan fisik senam, rekreasi dan olah raga— tingkat partisipasi hampir 70 persen. Sepuluh kegiatan fisik yang paling populer adalah jalan kaki, aerobik/fitnes, renang, bersepeda, tenis, golf, lari, jalan di alam terbuka, sepakbola dan bola tangan.

Pantas saja yaa banyak ditemui orang berjogging, dari sini saya jadi terpacu untuk jogging lagi setidaknya seminggu sekali (sejak menikah saya jadi malas olah raga, padahal dulu saya selalu jogging seminggu dua kali). Nggak patut dicontoh! Bagaimana tidak, sejak nikah berat badan saya naik 5kg (hingga saat ini nggak bisa turun).

Semakin malam di Manly
Main voli pantai malam-malam

Malam benar-benar datang padahal masih jam 6 sore tapi sudah gelap, kami pun menuju mobil dan Ahmad akan mengantarkan kami ke hotel kami yang berjarak 16 kilometer dari sini. Katanya, Ahmad sudah biasa bolak balik ke CBD, karena tempat kuliahnya di Sydney CBD, sedangkan tempat tinggal dan tempat bekerjanya ada di Sydney Utara ini. Biasanya Ahmad naik bis menuju Sydney CBD.

Diperjalanan, kami berhenti di sebuah kedai kebab yang ada di Dee Why, namanya Kebab World. Saya dan Vicky memilih kebab, sedangkan pak suami memesan snack box (sayur dan daging dicampur dengan bumbu, ditempatkan di box, tidak menggunakan kulit kebab). Kata Ahmad, ini kebab terenak di Sydney, saya percaya banget sihh, wong Ahmad orang Arab, pasti udah rekat banget cita rasa kebab yang original hehe. Di liat di papan menu, harga per porsi kebab atau snack box nya rata-rata 10AUD, harganya worth it! Karena kebabnya bener-bener tebel dengan irisan daging dan sayuran serta bumbu yang cukup banyak dituangkan di dalamnya. Disini saya juga membeli minuman yang katanya juga favorit di Sydney, dari penampakkan botolnya saja sudah menggiurkan hehe. Ketika mau membayar, dollar wistawan macam kami nggak berlaku, means di bayar semua oleh Ahmad! Total sekitar 50AUD, kalau di rupiahin yaa lebih dari 500ribu!

Kebab on process
Kebab on process
Kebab on process
Menu Kebab World
Menu Kebab World
Menu Kebab World
Dagingnya..
Minuman yang tersedia..

Kami melanjutkan perjalanan menuju Sydney CBD. Vicky dari tadi udah tidur di dalam mobil, sampai nggak mau turun waktu beli kebab tadi. Memanfaatkan waktu tersisa sebelum malam ini Vicky juga ada shift di tempat kerjanya. Tidak terasa satu jam perjalanan, kami pun sampai di hotel kami di Sydney Boulevard Hotel. Ahmad pun langsung balik ke Dee Why. What a day!!!

Kami cuma bisa doain yang terbaik buat sahabat-sahabat kami ini. Sangat bersyukur! Kami tahu rasanya hidup di perantauan. Liburan ke Sydney kali ini pun kami merasa berbeda dari liburan-liburan sebelumnya. Bagaimanapun juga, kami hidup di perantauan, kami terbiasa melalui hari-hari tanpa keluarga. Ketika liburan dan bertemu teman-teman di perantauan (yang secara jarak lebih jauh dari tanah air) seperti ini kami merasa bisa berbagi kebahagiaan. Bukan sekedar liburan, lebih bahagia dari liburan biasa karena bisa membantu melepas rindu teman-teman kami, melepas kesepian teman-teman kami, melepas kesepian kami!

Sekitar jam 8 malam, kami bertiga pun check-in, saat check-in kami bertemu dengan Air Crew nya Hawaiian Airlines yang baru saja turun dari kamar mereka dan bersiap untuk bertugas. Dengan sigapnya, Vicky langsung membuka website Flight Stats!! For your information, Vicky ini lebih gila dengan dunia penerbangan dan traveling daripada bapak suami, Vicky adalah gurunya pak suami. Ia hapal hampir semua jadwal pesawat yang akan landing dan take off di Bandara Soekarno-Hatta hanya dengan mendengar suara pesawatnya dan melihat jam. Kali ini, kayaknya Vicky belum familiar dengan jadwal penerbangan di Sydney! Haha. Kita tunggu kapan akan hapal yaa!

Berdasarkan website Flight Stats, ternyata para kru Hawaiian Airlies ini akan terbang dengan rute Sydney, Australia ke Honolulu, Amerika Serikat dengan nomor penerbanga HA452 dengan pesawat Airbus 330-300. Mereka akan berangkat jam 10 malam ini (waktu Sydney) dan akan landing di Honolulu jam 10 pagi (waktu Honolulu) di hari yang sama. Kebayang nggak? Saat itu mereka berangkat minggu, tapi sampai di tujuan di Hari Minggu juga tapi pagi! Hahaha. Saya yang selalu excited sama masalah perbedaan waktu dunia sebenernya agak bingung awalnya, kok bisa di hari yang sama juga sampainya? Akibat saking excitednya atau telat mikir karena udah mulai ngantuk. Ternyata, waktu Sydney adalah GMT+10, sedangkan Honolulu adalah GMT-10, perbedaan waktu mereka adalah 12 jam!! Sedangkan penerbangan mereka adalah sekitar 9 jam sampai 10 jam menuju Honolulu! Amazing ya!

Nomor kamarnya sama persis seperti di hotel kemarin, yaitu nomor 1109!! Sesampainya di kamar, kami pun segera berberes solat dan tidur. Vicky juga masih punya waktu empat jam sampai waktu kerjanya nanti, kebetulan kasur kami ada dua dan bener-bener big size!! Goodnight Sydney!!

Para kru Hawaiian Airlines yang sedang check-out
Room number 1109!
Sydney Boulevard Hotel
Sydney Boulevard Hotel
Wajib banget toiletries nya di foto!

Special Note from us:

Congratulation untuk Ahmad dan Ghadria atas pernikahannya!! Semoga sakinah mawadah warahmah. Nanti kami tengokin lagi ke Sydney ya!!

Amiin yaa Rabbal’alamiin..

8 thoughts on “Nyantai di Sydney, Australia (part 5)”

    1. Iya Bunda Erysha..
      Semua tempat kayaknya instagramable juga deh, bagus buat foto-foto..
      Semoga Mba segera ke Sydney yaaa! Makasiii udah berkunjung.
      Kunjungan mba sangat berharga sekali buat aku jadi semangaattt!

  1. Ngaji pas di kamar hotel *noted
    skechers..sepatu favorit anak saya tuh..enak banget katanya..
    Sydney..Wow! keren banget ceritanya Mbak…Wish list ini..Thanks info komplitnya
    Btw, tulisannya dikirim ke media untuk rubrik wisata aja Mbak..atau jadi buku perjalanan 🙂 bagus lo
    Atau sudah ya?

    1. Iya Mba ngaji di kamar hotel wajib buat aku skrg walaupun ngaji bbrapa ayat melalui handphone.
      Aku mewajibkan itu sejak aku diganggu sm mahluk halus mba waktu nginep di Belanda hahaha.
      Yes mba, skechers juara empuk dan awetnya, harganya standard aja dg kualitas segitu baguss..
      Aku lg ngajuin ke beberapa penerbit, baru sih mba, cm bukan cerita yg ini hehehe.. Doakan ya mbaa Diann!
      Semoga Mba dan keluarga segera liburan ke Sydney jugaa yah 🙂
      Makasi udah berkunjung dan memberikan pendapat nyaa.. sangat berharga bgt buat aku 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *