Australia, Sydney, Traveling

Nyantai di Sydney, Australia (part 4)

29 April 2017, Sydney Kingsford Smith Airport

Bulan April ini sebenernya Sydney baru akan memasuki musim dingin alias sedang musim gugur, jadi masih kuat lah yaa pakai kaos selembar di pagi hari gini, tapi katanya kalau sore apalagi malam hari udara akan semakin drop ke 10 degrees. Jadi, saat keluar dari bangunan terminal ini kami sangat senang, karena udaranya mirip seperti di pegunungan gitu! Adeem! Kami sudah bertigaan sekarang, kami akan ke pusat Kota Sydney, Vicky menyarankan untuk naik UBER aja, jadi yaudah kami nurut, Vicky telpon-telponan sama drivernya, tapi yaa karena Vicky juga belum pernah naik UBER dari bandara, jadinya kami cari-carian.. Berulang kali, sampai kami naik ke departure hall, padahal area itu tempat yang dilarang menaikkan penumpang, hanya untuk drop off saja… Sampai akhirnya si UBER membatalkan pesanan kami. Haha

Kingsford Smith Airport (sumber: Wikipedia)

Kami akan menuju hotel kami di pusat kota, namanya The York by Swiss-Belhotel, yes karena rencana awalnya kami mau berangkat tanggal 29 April, tapi malah jadi tanggal 28 April, jadinya kami harus booking hotel tambahan satu malam. Sebelumnya, saya udah cerita di Part 1, kalau kami udah booking hotel untuk tanggal 30 April-3 Mei. Nah, hotel tambahan ini kami booking waktu di Bali, pas nunggu pesawat ke Sydney.

Bookingan hotel kami
Sibuk nelponin UBER
Muter-muter nyari UBER part 1
Muter-muter nyari UBER part 2
Muter-muter nyai UBER part 3 (sampai ke Departure Hall)

Kami mencari alternatif lain, yaitu naik bus. Kami tunggu di halte di depan Rydges Hotel, keluar dari terminal tinggal belok kanan aja! Bangunannya besar, di depannya ada halte bus, banyak yang antri. Bisnya belum datang-datang juga, lumayan lama. Vicky pun sebagai akamsi alias anak kampung sini berinisiatif muter-muter nyari lokasi yang sebenernya dimaksud sama abang UBER tadi, setelah beberapa menit ia kembali ke halte dan mengajak kami ke meeting point penjemputan. Jadi, dari halte bis tadi tinggal nyebrang aja dan masuk ke area basement yang tidak terlalu luas, lalu akan menemukan jalanan lagi, dan nyebrang lagi, dan tadaaaaa ternyata meeting point nya ada di sini! Sebuah parkiran mobil gitu tapi banyak mobil penjemput disini. Vicky pun segera mengorder UBER kembali, sekitar 10 menit mobilnya datang! Ini jadi pengalaman baru buat kami naik UBER di negara orang.

Akhirnya kami turun lagi dan menuju halte bus
Lokasi halte bus-nya dekat Rydges Hotel (kanan terminal)
Bisnya bukan ini..
Basement (1), nama lokasi penjemputannya “EXPRESS PICK-UP”
Basement (2)
Basement (3), banyak yang berjalan ke Express Pick-up jadi nggak takut nyasar
Sudah keluar dari basement
Ini bangunan yg basement nya kami lewati
Jadi keluarnya dari tanda panah itu, dari arah terminal
Express pick up itu seperti area parkir terbuka di terminal
Sudah bisa dikontak si UBER nya.. Tinggal nunggu aja
Ini bookingan UBER kami yg fixed
Mobil putih itu UBER kami

Dari tadi landing hingga naik UBER ini, saya benar-benar merasakan ini seperti di rumah sendiri, means nggak kayak lagi traveling ke negara bule yang jauh banget.. Emang sih secara letak geografis, Australia ini negara bule yang paling dekat dengan Indonesia.. Penyebabnya entah karena ada sahabat yang akan menemani, karena lokasinya dekat dengan negara kita atau juga karena memang kami yang tidak well prepared. Mungkin gabungan semuanya! Ah, apapun itu.. Yang penting sejauh ini lancar-lancar aja. Alhamdulillahh..

Kami menikmati pemandangan selagi di mobil.. Cakepp banget kotanyaa, bersih juga. Seperti yang saya bilang, kalau saya tidak merasa sedang traveling, syukurlah jadi nggak takut! Haha karena biasanya kalau mau traveling jauh pasti ada perasaan takut. Sayang banget nggak bisa update-update di sosmed! Ini semua gegara hape mati, hiks.. Saya minta colokan hape ke drivernya, kali aja punya yaa kan! “Do you have any charger port or USB cable??” Dia pun menjawab, “Actually I have the USB, but I need to charge my phone during work. You will be arrive at hotel about 20 minutes.” Yaahh udahlahh, abangnya nggak ngerti kalau sekarang tuh lagi jaman no photo hoax, jaman eksis sosmed! Maksudnya di Indonesia gituuu hahaha! Lagian kan kalau naik UBER di Indonesia bisa pinjem charger huhu… Di perjalanan, abangnya bercerita banyak, termasuk tentang Indonesia, kayaknya doi pernah ke Bali. Abangnya cukup hapal daerah sekitar hotel, dia menjelaskan banyak tentang lokasi-lokasi asyik untuk nongkrong dan makan. Sampai akhirnya dia bilang, “I am a professional UBER (dibaca: ABEH) Driver”.. Bah!!

Melewati highway
Enjoy the city view!
Nggak mau kalah foto haha
Masih di jalan tol
Udah masuk pusat kota
Bangunan khas Eropa
Udah mau sampai! Yeay!

Kami pun sampai di hotel, hotelnya sedikit terlihat tua, gaya-gaya Eropa gitu bangunannya, klasik tapi cantik! Pertama masuk kamar ada toilet, lalu dapur dan meja makan yang di samping nya ada balkon, ada sofa panjang dan televisi, lalu tempat tidur yang super besar! Kamarnya full carpet, pas saya ke balkon tanpa alas kaki jadi superr dingin! Love it! Kami pun berberes diri, mandi dan ganti baju, biar lebih fresh jalan-jalannya. Yang pasti, kami juga lapar haha.. Vicky sudah cukup paham daerah sini, jadi nanti kami akan diajak makan di tempat langganannya..

The York by Swiss-Belhotel (dapur)
The York by Swiss-Belhotel (di area dapur)
The York by Swiss-Belhotel (meja makan, balkon di samping, TV & sofa)
The York by Swiss-Belhotel (sofa)
The York by Swiss-Belhotel (tempat tidur)
The York by Swiss-Belhotel (tempat tidur)
The York by Swiss-Belhotel (balkon)
The York by Swiss-Belhotel (balkon)

Setelah beberes, kami siap berangkat untuk sedikit meng-explore Kota Sydney, karena masih lumayan capek jadi sepertinya yang akan kami kunjungi hanya landmark-landmark nya aja untuk hari ini. Kami menuju stasiun terdekat, yaitu Wynyard Station untuk menuju ke Town Hall.. Stasiun keretanya nyaman dan bersih. Selain itu yang menarik adalah keretanya yang tingkat dan cabin nya pun masih bagus banget. Berbeda sama kereta di Amsterdam dan Paris yang agak sedikit jadul, tapi walaupun jadul tetep masih prima dan nyaman juga kok hehe. Kereta di Australia ini bener-bener masih kinclong banget, kursinya berwarna biru cerah, cat kabinnya juga cerah, saya nggak mau ketinggalan untuk duduk di atas! Excited!!

Tidak terasa kami pun sampai di Town Hall Station, dari Town Hall Station keluar lewat pintu 5 (Exit No.5) lalu jalan kaki sedikit menuju China Town dan masuk ke food court. Diperjalanan yang sedikit menuju food court, saya sangat menikmati pemandangannya, kami berjalan di tengah-tengah gedung-gedung bertingkat yang bergaya klasik! Buat sebagian orang mungkin biasa, tapi saya sangat suka, ditambah saya bisa menghirup udara bersih di tengah perkotaan, ahhhh rasanya paru-paru saya tersenyum lebar! That’s why saya dan suami senengnya traveling ke kota besar gitu kalau di luar negeri. Kalau melakukan perjalanan ke pegunungan atau laut udah pasti udaranya sejuk, bersih dan bebas polusi, tapi kami sangat excited ketika di sebuah kota metropolitan di negara lain tapi masih bersih udaranya! Membayangkan kalau setiap hari di negera sendiri bisa seperti itu. Aamiinn! Sampailah kami di food court, banyak stand-stand makanan tapi yang kami tuju itu namanya PONDOK SELERA, haha udah bisa ditebak dari namanya adalah masakan melayu yaa!! Tapi emang dari awal di hotel saya udah seneng pas dibilang ada menu-menu Indonesia gitu, secara udah beberapa hari rasanya nggak makan nikmat, apalagi kalau diingat gimana saya lapernya waktu di Bandara Bali hhuhu… Dan ternyata makanan yang dijual juga Halal! Alhamdulillahh..

Berulang kali saya ke luar negeri, memang awalnya saya masih cuek dengan makanan, saya makan apapun yang penting nggak ada tulisan “pork” nya, tapi lama-lama saya nggak nyaman makan makanan yang non halal. Sekitar setahunan ini, kalau ke negara yang mayoritas non-muslim, saya berubah jadi si “picky eaters” Hehe… Yaa karena mau nggak mau, belum tentu saya menemukan makanan yang halal di suatu daerah, tapi jaman semakin modern jadi bisa googling dulu sebelum berpergian. Intinya, searching-searching resto yang halal saat ini jadi satu tambahan pekerjaan penting ketika menyusun itinerary.

Di Australia sendiri sudah banyak makanan halal, sudah banyak artikel para travel blogger yang menuliskan tentang banyaknya makanan halal di Australia. Malahan, di salah satu situs wisata Australia berbahasa Indonesia, mencantumkan beberapa resto halal yang ada di negaranya, bisa visit di website www.australia.com ya! Hmm dan satu lagi, website favorit saya mencantumkan detail panduan wisatawan muslim di Australia, please visit www.pergidulu.com karena disitu ada link panduannya yang bisa di download.

Ready!!
Wynyard Station
Autumn Sign hehe
Wynyard Station
Keretanya tingkat! Cool!
Here we are in upper deck!
Town Hall Station
Town Hall Station
Town Hall Station
Town Hall Station (Exit 5)
Sydney!
Lalu lintas di Sydney
Sydney!
China Town

Makanan kami pun tiba, duh udah nggak sabar karena kelihatannya bener-bener enakkk.. Saya pesen laksa, suami saya pesen nasi goreng dan Vicky pesen nasi tim. Porsinya luar biasa besar, asikkk!! Entah kenapa saya merasa cepat kenyang padahal baru makan sedikit, padahal tadi juga laperr banget. Akhirnya dibantuin juga makannya rame-rame hehe.. Tapi sumpah, masakannya enak banget, kalau saya kesini lagi mau pesan menu lain (karena dari gambarnya bikin ngiler!), dan kalau saya balik lagi ke Sydney saya akan kembali untuk makan di sini. It’s really recommended! Murah dan enak, dan yang penting halal dan bersih. Apalagi ini masakan Indonesia-Malaysia gitu, pasti bikin kangen lidah deh! Secara orang-orang Aussie kan makannya steak, fish & chips, burger, makanan barat gituuu…

Seperti yang saya bilang di atas, PONDOK SELERA ini ada di dalam food court gitu, jadi berjejer stand-stand makanan lainnya, dan banyak juga yang makan disini, bukan cuma orang asia, tapi orang-orang bule juga pada makan disini, mereka biasanya bersama keluarga mereka malah. Jadii, kalau ke Sydney jangan lupa makan disini yaa teman-teman!

Food court sign di Chinatown
Nama foodcourtnya
Pondok Selera
Halal Food
Ini menu nasi ramesan atau nasi campurnya (tinggal pilih)
Penampakan foodcourtnya
Yummy!!

Saya ngerasa super kenyang, padahal baru makan sedikit, huhu.. Rasanya ini tanda-tanda mau drop deh hikss.. Sedikit menyesal karena tidak menghabiskan laksanya sendirian (sisanya dikeroyok bertiga makannya haha). Setelah selesai, kami pun segera keluar karena udah cukup siang, daaaan angin semakin dingin berhembus di saat kami keluar dari food court, tapi saya menikmatinya! Kegirangan macam alay yang nggak pernah kena udara dingin, yaa wajar sih.. Kan Indonesia tercinta negara tropis yang berada di garis khatulistiwa..

By the way, Australia ini kan salah satu negara terdekat dari Indonesia yaa! Waktu tinggal di Sumbawa Besar dulu, suami saya bercerita tentang seorang pilot yang membawa terbang pulang pesawat pribadinya SENDIRIAN!!!! Yes, sendirian bawa pesawat (jangan mikir digeret-geret ya pesawatnya hahaha) menuju Australia (kurang tahu negara bagiannya), denger ceritanya itu takjub banget karena terbang dengan pesawat jet berbadan besar aja udah pegel, apalagi terbang dengan pesawat kecil, pasti pegelnya kalah sama horornya!

Gini nih ceritanya (pernah saya tulis di Instagram saya):

Sekitar Bulan Januari 2016, ada seorang Aircraft Engineer yang sudah cukup tua, datang ke Sumbawa Besar untuk memperbaiki pesawat latih berbaling-baling yang sepertinya sudah lama terparkir di Bandara Sumbawa Besar, sejak saya tinggal di Sumbawa Mei 2015 saja sudah ada pesawat ini dan tidak pernah diterbangkan sama sekali. Engineer tersebut berkebangsaan Australia. Ia telah mengecek kondisi pesawat tersebut, ternyata untuk perbaikannya dibutuhkan sparepart yang harus dikirim dari Australia langsung. Setelah dicek ke berbagai ekspedisi internastional, biaya pengirimannya sangat mahal… Alhasil, si engineer tersebut memilih balik ke negaranya untuk mengambil sparepart yang ia butuhkan. Tidak lama kemudian, si engineer ini kembali ke Sumbawa, ia melanjutkan memperbaiki pesawatnya sendirian. Setelah pesawatnya normal dan tidak ada kerusakan lagi, ia menunggu proses perizinan terbangnya selesai. Pesawat yang telah diubah registrasinya (dari Indonesia menjadi Australia) itu pun bisa ia terbangkan setelah izin terbangnya keluar pada Maret 2016. Si engineer ini juga merupakan seorang Pilot pesawat tersebut, jadi ia menerbangkannya sendirian menuju Australia dengan transit di beberapa pulau-pulau kecil antara Indonesia dan Australia, karena pesawat sekecil ini pastinya tidak bisa terbang langsung dari Indonesia ke Australia.

Salut dehhh sama pak pilotnya.. Saat itu, saya jadi ngebayangin seberapa dekat jarak Indonesia-Australia??? Bagaimana yaa rasanya penduduk yang tinggal di pulau perbatasan terluar Indonesia ini menjalani hari-harinya?? Saya aja yang pernah tinggal di Sumbawa Besar (posisinya masih di tengah-tengah Indonesia walaupun sudah cukup ke timur), lumayan “wah” ngejalaninnya, banyak deh suka dan dukanya, tapi itulah yang mahal harganya! Saya sangat bersyukur! Saya bangga banget pernah tinggal di Sumbawa Besar loh, malah hingga kini saya masih menganggap teman-teman di Sumbawa Besar adalah keluarga saya. Semoga Allah SWT selalu melindungi mereka, Aamiin ya Rabb..

Pesawat kecil ini yang diterbangkan dari Sumbawa Besar menuju Australia (my own file)

Kali ini saya bener-bener penasaran sama daftar pulau terluar Indonesia terutama yang dekat dengan Australia. Saya screen capture nama-nama pulaunya. Pernah nggak sihh terbayang betapa luasnya Indonesia?? I really proud be an Indonesian!

Pulau terluar Indonesia yang lokasinya dekat dengan Australia (sumber: wikipedia)

Tapi saya mencari-cari satu nama pulau yang nggak ada di daftar, yaitu Pulau Saumlaki yang kalau dilihat di peta itu deket banget sama Darwin, Australia… Kenapa saya kepingin tau pulau tersebut?? Jawabannya adalah cuma karena (lagi-lagi) sering diceritain sama suami saya haha.. Temennya suami ada yang penempatan disana, temen yang lain juga pernah liburan ke Saumlaki… Diceritain seru banget! Dan akhirnya penasaran deh haha. Ada cuplikan artikel nih tentang Pulau Saumlaki, (sumbernya bisa klik di sini ya):

Nama Pulau Saumlaki mungkin terdengar asing di telinga kamu. Namun, sekali berkunjung kemari kamu pasti betah dan nggak akan merasa bosan! Ya, Pulau Saumlaki masuk dalam Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Karena letaknya “di luar” Indonesia, maka Pulau Saumlaki lebih terkenal di luar negeri daripada di Indonesia. Kapal-kapal (mulai dari Australia, Timor Leste sampai Amerika Serikat) sangat sering berhenti di Pulau Saumlaki. Wisata pantai di pulau ini adalah yang paling diminati wisatawan, dimana pasir putih dan laut yang jernih akan membuatmu betah berlama-lama di sini. Pantai Weluan dan Pantai Pertamina menjadi salah satu tujuan wisata yang terkenal di Pulau Saumlaki.

Ahhh sooo eksotis! Indonesia emang juara banget untuk masalah kepulauan dan pantai-pantainya, ngebayanginnya aja udah jatuh cinta, apalagi berwisata kesana pasti nggak berkedip! Indonesia emang MEWAH yaa!! Setuju kan!!

Eh ternyata gini loh, Saumlaki adalah sebuah kota di Kabupaten Maluku Tenggara Barat yang berada di Pulau Yamdena, Saumlaki merupakan kota terbesar, yang terletak di bagian selatan pulau tersebut, ia juga menjadi Ibu Kota Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Yamdena adalah pulau terbesar di Kepulauan Tanimbar.  Kepulauan Tanimbar atau Timur laut merupakan kumpulan pulau-pulau di Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Dari list “kepulauan terluar Indonesia”, yang terdaftar adalah Pulau Selaru. Pulau Selaru adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Timor dan berbatasan dengan negara Australia. Pulau Selaru ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara Barat, provinsi Maluku. Pulau ini berada di sebelah selatan dari Pulau Yamdena. Jadi Pulau Saumlaki sama Pulau Selaru tetanggaan dan emang deket banget sama Australia kalau dilihat di peta, perjalanan Ambon-Saumlaki dengan pesawat yaitu sekitar 2 jam penerbangan. Amazing Indonesia!

Peta Kepulauan Tanimbar (sumber: UNICEF Indonesia)

Selesai sudah gali-gali infonya tentang kepulauan terluar Indonesia, penasarannya lumayan terobati haha.. Lanjut yaa ke cerita perjalanan kami di Aussiee!

Sydney Opera House!

Dari Chinatown, kami akan menuju objek wisata yang tersohor di Sydney, yaitu Opera House! Awalnya kami berjalan kaki menuju lokasi tram terdekat, yaitu di Paddy’s Market… Sempat menunggu sekitar 20 menit, akhirnya tram nya datang juga. Tadinya mau mampir ke Paddy’s dulu sebentar, tapi karena kami kelelahan jalan kaki di tengah udara yang dingin (rasanya engap), jadinya kami cuma duduk aja pas nunggu tram datang. Tram nya mirip seperti di Belanda, tapi mungkin karena jam sibuk kali yaa jadi tram agak penuh dan lama datangnya. Hanya beberapa halte saja, kami memutuskan untuk turun dari tram dan jalan kaki lagi menuju ke stasiun kereta (Central Station), kami memang senang menikmati jalan santai kalau lagi traveling gini walaupun badan udah mulai berasa capeknya, tapi hati senang, yaaa serasa warga lokal kalau bisa berjalan santai. Pemandangan bangunan klasik gaya Eropa dan angin yang berhembus lumayan dingin walaupun matahari cukup terik membuat perjalanan semakin menyenangkan!

Di beberapa sudut taman yang saya lewati, saya sempat melihat lumayan banyak tunawisma gitu, mereka tinggal di tenda-tenda yang di bangun di taman tersebut, awalnya saya mengira mereka lagi berkemah, tapi perabotan yang ada di tenda-tenda mereka nggak wajar (kardus-kardus dan pakaian-pakaian yang digantung), nggak kayak orang mau berkemah dan baju mereka lusuh, mereka juga sedang beraktifitas normal (tidak bersenang-senang). Saya nggak berani mengambil foto-foto tersebut, jangankan mengeluarkan kamera, memandang mereka saja saya nggak berani, no reasons sih, orang-orang lokal aja berlalu-lalang dengan normal tanpa memperhatikan mereka.

Akhirnya kami sampai di stasiun! Sebelum masuk, Vicky bilang kalau stasiun ini memiliki aula yang megaaah banget!! Desainnya juga bener-bener klasik! Dan memang benar, stasiun ini terlihat sangat antik, di dinding-dindingnya tertulis sejarah stasiun, sampai ada foto-fotonya. Saking kagumnya, saya yang memang selalu berjalan sendiri di belakang Vicky dan Suami, kali ini lumayan tertinggal jauh hehe.. Kereta-kereta yang berpenampilan modern terparkir rapih di stasiun ini, yes walaupun stasiunnya klasik alias jadul, tapi bersih banget dan tertib! Oiya, nama stasiunnya adalah Central Station, stasiun kereta ini didirikan sejak tahun 1855, sejarahnya bisa lihat disini ya! Kamipun segera menaiki kereta, lagi-lagi kami memilih duduk di atas. Perjalanan ditempuh tidak terlalu lama, hanya total 10-15 menit. Setelah 3 pemberhentian, kami turun di Circular Quay! Dari sini udah keliatan dari kejauhan si Keong Putih nyaaa ahhh nggak nyangka bisa kesini!

Berjalan kaki menuju Paddy’s Market
Paddy’s Market dari halte tram
Tapping OPAL Card untuk naik tram
Nunggu tram
Tramnya belum muter, jadi kami ke arah yang berlawanan
Tramnya!
Stasiun Sentral Sydney
Stasiun Sentral Sydney
Stasiun Sentral Sydney
Stasiun Sentral Sydney
Stasiun Sentral Sydney
Stasiun Sentral Sydney (masuk ke gerbang utama)
Stasiun Sentral Sydney (gerbang utama tadi)
Stasiun Sentral Sydney (aula nya yang megah dan klasik)
Stasiun Sentral Sydney (sejarah perkeretaapian NSW)
Stasiun Sentral Sydney (jadwal keretanya, sangat modern dan teratur)
Stasiun Sentral Sydney (sejarah Central Station)
Stasiun Sentral Sydney (salah satu gerbang menuju platform, sudah modern dengan system otomatis)
Stasiun Sentral Sydney (salah satu kereta yang terparkir)
Stasiun Sentral Sydney
Stasiun Sentral Sydney (naik ke kabin atas)
Ini adalah rute perjalanan menuju Sydney Opera House dari Central Station

Selama diperjalanan saya menikmatinya, saya memang penggemar kendaraan umum kalau lagi traveling gini. Keluar dari kereta ini kami cukup berhimpitan dengan penumpang lainnya, saya merasa ada yang aneh sejak keluar kereta itu. Entah lebay aja atau beneran, yang pasti saya feel nya kuat banget kalau bakal terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Benar saja punggung saya ada yang mendorong, akhirnya saya kasih jalan orang tersebut, entah kenapa pas mau turun tangga dia ada dibelakang saya lagi, saya bisa tahu padahal saya tidak melihat orang tersebut, tapi lagi-lagi feel saya kuat! Pas udah di bawah saya berjalan cepat biasa dan tenang karena area nya lebih luas jadi saya yakin nggak ada yang akan terhalangi. Dan tiba-tiba si bule yang anarkis itu mendorong kuat saya di punggung saya, sambil mendumal keras!!! Saya tau ini bukan negara saya, makanya saya tidak mengomeli dia, saya hanya teriak HEY!!! (pake nada kesel tapi nggak maksimal karena udah takut duluan). Saya sebenernya takut, karena si bule badannya keker, tinggi, besar dan saya rasa saya langsung remuk kalau kena tinju hiksss..

Sesaat pak suami langsung nyamperin saya, dari tadi saya emang jalan nya jauh dibelakang sendirian. Masih sedikit syok sih! Pak suami juga melihat si bule dan gandengan nya (cewe berwajah penduduk oceanic country, atau berwajah aborigin yang tidak bule gitu) pergi dengan brutal. Pak suami berusaha menenangkan saya, saya cukup tenang akhirnya, sepanjang jalan dari stasiun menuju opera house saya nggak misah sendirian lagi deh saking masih syoknya..

Ketika keluar dari Circular Quay Station, kami langsung disambut oleh Sydney Harbour Bridge yang sangat berkilau karena matahari sore sangat bersemangat untuk pulang ke peraduannya. Ini merupakan kawasan dermaga yang dijadikan lokasi wisata, makanya banyak kapal ferry yang bersandar dan ada beberapa jet boat yang siap mengantarkan para wisatawan berkeliling Sydney untuk merasakan sensasi kecepatan kapal boat yang menerjang ombak, serta merasakan hembusan angin yang sedang dingin karena daratan Bumi Selatan sana sudah membeku. Yang pasti, naik kapal-kapal tersebut berbayar yah! Saya sendiri belum tertarik untuk naik kapal-kapal itu dan memilih berjalan terus menuju keong mas, eh keong putihh hehe.

Udara sudah cukup dingin tapi matahari masih cukup terik, kawasan Opera House ini sudah sangat ramai, orang-orang berkumpul, saya yakin pasti saya akan menemukan orang Indonesia hahha (yaa banyak jugaa kan orang Indonesia yang stay dan wisata ke sini!), selain itu yang daritadi banyak saya temuin adalah orang-orang bule yang berjogging cepat (bukan jogging santai macam saya, kalau jogging keliling komplek. Saking santainya, kaki nggak saya angkat tinggi-tinggi haha).

Sambutan dari Sydney Harbour Bridge ketika keluar dari stasiun
Jet Boating yang merupakan salah satu penyedia fasilitas Jet Boat
Foto wajib!!
Bertiga leyeh-leyeh gaya
Opera House

Tidak lama kemudian Vicky pulang duluan karena bersiap untuk shift malam di tempat kerjanya. Kami pun memutuskan untuk tetap santai-santai di Sydney Opera House ini. Tiba-tiba saya membayangkan kalau ada mama dan papa saya disini, really miss you! Saya pun melakukan video call dengan mereka, dengan susah payah karena pertama menggunakan handphone kampr*t saya yang tiba-tiba (lagi-lagi) mati total tanpa peringatan apapun! Akhirnya menggunakan handphone pak suami. So happy!!!

Kami berjalan menuju Gedung Opera House nya, banyak yang sudah duduk-duduk santai di undakan tangga gedung tersebut, berfoto-foto, anak-anak kecil mengejar-ngejar burung camar, ramaiii sekali! Kami berpindah-pindah tempat duduk, duduk di kursi-kursi yang disediakan di pinggiran dermaga, melihat Sydney Harbour Bridge dari depannya pas! Di setiap tempat di Opera House ini diramaikan oleh burung camar. Saking banyaknya, kami sampai terhibur, karena para burung camar tersebut tidak takut dengan manusia, malah mereka selalu mengahmpiri manusia yang membawa makanan sambil berteriak koakkk koakkkk!! Then we called them KOAKK!!

Di area Opera House ini memang ada sebuah restoran yang besar (sepertinya the one and only) dengan tempat duduk yang benar-benar ada di ruang terbuka, menghadap Opera House. Restoran ini dilengkapi heater di beberapa sudut yang membuat hangat, yang kalau semakin malam gini malah semakin dipenuhi oleh wistawan dengan para anak-anak mereka yang masih kecil, ada juga warga lokal yang sepertinya baru pada pulang kerja karena banyak yang menggunakan setelan kantor. Kami bisa melewati resto tersebut, yang memang lokasinya ada di lorong jalanan terbuka yang bisa dilalui oleh semua pengunjung. Saat melewati resto tersebut, suasana disini lebih hangat karena dilengkapi riuh ramai suara tawa dan obrolan mereka yang diiringi musik yang bersemangat! Tidak terasa matahari benar-benar tenggelam, semakin malam semakin dingin dan angin semakin kencang. Kami pun memutuskan pulang ke hotel dan terlebih dahulu mampir ke Starbucks menghangatkan diri dengan segelas hot coffee!

Video call time!
Ada pesawat landing (coba cari!)
Pict from Opera House
Banyak anak kecil yang berlarian, semakin sore semakin ramai
Gedung-gedung yang ada di daerah The Rocks, Sydney (diambil dari Opera House)
Another side (crowded)
Koaks are everywhere
Makin malam makin ramai
Eka?? Who is she?

Kamar hotel kami sangat besar (seperti yang sudah saya jelasin di atas), tapi anehnya saya tidak menemukan adanya penghangat ruangan. Bergelung dengan selimut di kasur yang super empuk membuat saya menyerah menahan kantuk.. I hope I have a sleep tight, Sydney!!

RRrrrrrRRRRrrrrRRRRRrrrrr… Gigi saya bergemerutuk! Rasanya saya pules banget tidurnya tapi kok ya masih ngantuk bangetttt!! Saya liat jam di handphone, taunya saya baru tidur 1,5 jam! Badan saya yang alergi udara dingin ikutan kumat, muncul bentol lebar di beberapa bagian tubuh. Kaligata please jangan parah-parah ya! Nggak seru banget kalau harus bengkak-bengkak padahal lagi libuaran gini!

The worst experience dengan Kaligata adalah ketika di Sumbawa Besar. Lagi tidur kayak gini, jam 11 malem kebangun karena dibelakang leher gatel geremet-geremet parah.. Saya hidupkan lampu kamar, pak suami langsung teriak karena muka saya ternyata udah bengkak, seketika itu pak suami berinisiatif mengolesin badan saya dengan Minyak Zaitun!! Hahaha.. Berharap bakal adem dan kempes kali ya (maklum kami nggak sekolah kedokteran) haha.. Saya paksain tidur tapi makin lama gatelnya makin parah, menyiksa banget hiksss.. Akhirnya pak suami tengah malem ke RSUD buat beli obat, karena nggak ada apotik yang buka 24 jam, itu pun mesti gedor-gedor dulu karena orangnya nggak di tempat. Perjalanan Kaligata saya itu nggak selesai sehari dua hari, tapi hampir dua bulan baru bener-bener sembuh.

Kali ini, bentolnya emang udah lebar-lebar tapi Alhamdulillah nggak banyak, saya olesin aja minyak kayu putih (senjata orang Indonesia yang mesti dibawa kemana-mana di tas hehe). Saya juga sempatkan jamak Solat Magrib dan Solat Isya, setelah itu banyak gerak biar suhu badan meningkat dikit. Ini cuma teori pribadi yang lumayan manjur saat ini, tapi kalau Kaligata parah sih nggak jamin sembuh sesaat itu juga hehe. By the way, Kaligata emang suka kambuh kalau lagi kecapean macem gini. Tapi memang malam ini dinginnya nggak nahan, padahal nggak pakai AC, tapi emang ruangannya nggak ada room heater-nya (apa kami yang nggak tau ya dimana room heater-nya!?). Tapi, kayaknya emang bener-bener nggak ada room heater-nya deh, toh ini kan hotel berbintang, yang pasti ruangannya juga kedap udara dan nggak masalah dengan AC yang dihidupkan. Hmmm…

I have another stupid experience tentang room heater! Haha… Ketika ada acara menginap di sebuah asrama mahasiswa/i sebuah universitas di Christchurch, New Zealand. Saat itu sedang musim panas, tapi di NZ tetap dingin, udaranya sekitar single degree celcius di malam hari. Saya baru saja tiba, ruangan kamarnya kecil tapi memang tidak rapat, masih ada lubang udara. Namanya anak kampung yang baru pertama kali ke negara dingin, tidur yaa tidur ajaa… Alhasil nggak bisa tidur semaleman! Padahal lumayan jetlag! Menggigil kedinginan hiksss… Besoknya baru saya paham tentang penggunaan room heater.

Setelah lumayan hilang bentol dan gatalnya, akhirnya saya bisa tidur pulas sampai pagi…

 

 

2 thoughts on “Nyantai di Sydney, Australia (part 4)”

  1. Udh lama bgt pgn ke aussie.. Sbnrnya pgn k gold coast nya mba :D. Krn di sana ada themepark yg rollerocasternya msuk rekor dunia sking extremenya, dan aku tiap traveling k banyak negara, pasti yg aku cari itu rollercoaster :D. Moga2 bisa 2019, krn smpe 2010 travel schedule udh fix :D.

    Pgnnya sih pas ke aussie jg pas musim dingin, soalnya aku ga kuat panas :D. Mau baca semua cerita ttg sydney di blog mu deh 🙂

    1. Halo Mba Fanny,

      Wah aku nggak berani naik rollercoaster, tapi kalau emg mba penyuka mainan ekstreem sih harusss banget dicoba ya haha
      Iya musim dingin seru juga kayaknya, aku juga kepingin pas musim dingin ke Australia lagi.
      Aku tunggu juga ya Mba cerita traveling mba ke Gold coast, soalnya aku blm plan kesanaaa.. paling mau ke Melbourne aja dlu 🙂

      Makasiii ya Mbaa udah visit blog akuu, aku visit blog mba, udah banyak banget yaaa travelingnya cuma blm selesai aku baca2nya hhi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *